Dulu sekali saya pernah save komentar dari seorang ibu mengenai anak yang susah makan dan mau makan sambil duduk.
Namun sayangnya saya ga menyimpan data si ibu ini.. semoga tips nya bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi beliau ππ
Berikut tips nya..
Manfaat belajar makan sambil duduk.
Jadi, proses batita itu proses golden periodenya perkembangan.
Jadi dimasa itulah apa yg kita ajarkan akan diproses scr cepat oleh bayi.
Membelajari anak mmg butuh kesabaran luar biasa, tapi mmg kudu ttp disiplin. Bukan memaksa.
Bedakan disiplin dg memaksa nggih bunda.
Jadi proses nutrisi saat usia MPASI 6-24 bulan adalah belajar, krn nutrisi utamanya adalah 70% ASI.
Jadi mmg benar, disitulah kita terapkan pembelajaran nutrisi yg baik, pola asuh, asah dan asih.
Tidak hanya soal makan bunda.
Dg makan duduk, anak akan dilatih utk konsentrasi thd apa yg dihadapkannya/waktu yg seharusnya.
Kalo makan sambil nonton tv, si anak krg bisa menangkap rangsangan perkembangan yg akan dia olah. Apakah proses belajar makan atau proses menonton tv.
Karena arena usia 6-24 bln itu hanya 1 proses yg bisa diolah.
Bahkan sampai ke bahasa. Televisi pun krg baik utk perkembangan jrn ada audio dan visual yg berat mereka olah, ditambah terlalu cepat gerakan visual yg harus diproses. Mungkin kita sering melatih anak bicara itu juga dg pelan dan 1 bahasa bukan.
Back to makan,
Dg kita didik sedni ttg konsentrasi saat makan, saat si anak kita sudah remaja atau dewasa, jangan salahkan kalau nanti kita mengeluh si anak susah konsentrasi belajar/ melakukan pekerjaan tidak pernah selesai, dan semacamnya.
Terbukalah utk ilmu bunda krn anak kita jaman now sudah tidak bisa disamakan dg periode sebelumnya.
Sebagai ibu boleh merasa benar, tapi tidak menutup kemungkinan utk menyadari kesalahan.
Bukan menutup kesalahan dg melegakan hati sendiri.
Dan satu lagi... optimislah sebagai bunda, karena dg kita optimis bisa mendidik anak, anaklah yg mematuhi kita, bukan kita yg mengikuti kemauan mereka. Karena balita belum tahu, kita yg memberitahu.
πππππππππππππ
Biasanya, pemilihan kosakata bunda.
Saya ambil contoh nggih :
Saat kita sering mainan
" tahu atau tempe?"
Anak jawab tempe.
" tempe atau tahu?"
Anak jawab tahu.
Bisa dilihat, bahwa anak itu banyam menangkap di kosakata terakhir.
Yg terjadi,
Kosakata kita sering memakai kata jangan, tidak,,
"Jangan lari" apakah kata yg diproses oleh balita adalah "lari"
Bisa dikatakan balita tidak bisa mencerna kata "negatif"
" Jangan lari" bisa diganti ayo duduk. Ayo jalan.
Kemudian, kasus yg sering pula adalah ketidakjujuran orangtua,
Contohnya dg ditakut2i, ortu bohong dg mengeluarkan alasan yg ga jelas dan ga masuk akal.
Kemudian
Pengaruh lainnya adalah
"Komando"
Berikan 1 komando atau 1 sepakat sesama keluarga.
Kdg anak bingung karena banyak komando.
Contoh :
Si ibu melarang, si nenek membolehkan.
Itu yg akhirnya balita bingung.
Otomatis jadi ga tahu arah. Akhirnya yg sering disalahkan jadi keluar "anak nakal"
Dan masih banyak lagi bun, bunda bisa pelajari di psikologi anak. Banyak yg bisa kita sadari, kdg tindakan kita yg mungkin kecil berpengaruh besar pada anak utk sekarang bahkan nanti esok.
Itu sharing dari saya mba.
πππππππππππ
Berat memang...
sabar itu belajar..
Ada bbrp tips
1. Tarik nafas panjang saat mulai emosi
2. Tatap mata anak sejajar utk memberitahu dan berbicara
3. Sadarlah dia itu anak yg masih belum lengkap pengetahuannya, utk itu tugas kita memberitahu.
Yg paling sering terjadi adalah kita marah/ emosi ke anak bukan semata2 faktor kasalahan anak, tapi sering kali karena faktor lain yg juga mengikuti contohnya kelelahan, atau masalah lain yg sedang terjadi.
Itu yg sering mjd penyesalan orang tua setelah memarahi anak.
πππππππππππ
Senin, 12 Februari 2018
Review Nice Home Work #3
Review Nice Home Work #3
_Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional_
*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*
Kalau kamu ingin berbincang-bincang dengan DIA, maka temuilah DIA dengan caramu, Tetapi apabila kamu ingin mendengar DIA berbicara, memahami apa kehendakNya padamu, maka *IQRA'*, bacalah semua tanda cintaNya untuk kita, mulai dari surat cintaNya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita
Apa yang sudah teman-teman lakukan di proses nice homework #3 ini adalah proses *IQRA'*( membaca).
Dimulai dari membuat surat cinta. Mengapa harus membuat surat cinta? karena bagaimana anda bisa merasakan surat cintaNya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda.
Dan kita semua belajar bagaimana melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna biru π sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis di wall FB yang membuat hati makin mengharu biru.π
Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta, kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah ditentukan, _candle light_ dengan hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan. Tetapi DIA tetap mencintai kita, tanpa Pamrih.
Menyitir puisi Sapadi Djoko Damono,
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Maka tetaplah alirkan cinta kepada pasangan anda, anak-anak anda, jangan pernah berhenti, seberapapun menyakitkannya balasan yang anda terima.
Terima kasih untuk kebesaran hati teman-teman mempercayakan grup ini untuk menerima aliran rasa anda.
Setelah mengalirkan rasa, sekarang mulailah melihat dua kalimat yang sangat penting ini untuk memaknai apa makna sebuah *MISI KEHIDUPAN* :
*“Dua hari yang paling penting dalam hidupmu adalah hari pada saat kamu dilahirkan dan hari di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu dilahirkan”*
Setiap dari kita memiliki misi spesifik hidup yang sangat penting digunakan dalam membangun peradaban. Langkah berikutnya adalah kita akan dipertemukan dengan partner hidup kita, anak-anak kita dimana mereka membawa misi hidupnya sendiri-sendiri, dan bersama kita dalam sebuah keluarga. Beberapa gabungan misi spesifik hidup setiap anggota keluarga tersebut akan bersinergi membentuk sebuah misi spesifik keluarga. Inilah yang akan menjadi amunisi kekuatan kita untuk mengarungi samudera di atas bahtera rumah tangga, baik di saat ombak tenang, maupun saat badai menghadang.
Maka ada satu kalimat lagi yang bisa lebih membantu kita untuk memaknai apa arti sebuah misi keluarga.
*“Dua fase yang paling penting dalam hidupmu adalah fase di saat kamu bertemu dengan jodohmu dan fase di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu berdua dipertemukan”*
Dengan demikian makin paham kita bahwa semua menginginkan 'keberadaan' kita dan keluarga kita, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.
*"Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga "amanah" yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita."*
Semua keluarga berjalan menuju sebuah *VISI HIDUP*. Kesamaan visi hidup inilah yang membuat kita bisa bersama-sama dalam satu gerakan dengan saling menguatkan peran masing-masing sesuai dengan misi spesifik hidup dan keluarga masing-masing.
Inilah *VISI HIDUP* kita semua dalam membangun peradaban, terlalu berat apabila dikerjakan sendiri-sendiri, maka kerjakanlah dengan misi spesifik kita masing-masing.
Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri. Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu.
"Kuncinya bukan pada seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa *BERSUNGGUH-SUNGGUH* nya kita dalam menjalankan MISI HIDUP kita"
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber Bacaan :
_materi matrikulasi membangun peradaban dari dalam rumah, IIP, 2018_
_Tulisan-tulisan Nice Homework #3 dari para peserta matrikulasi IIP, 2018_
_Hasil diskusi penajaman misi hidup dengan bapak Dodik Mariyanto dan Abah Rama Royani_
_Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional_
*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*
Kalau kamu ingin berbincang-bincang dengan DIA, maka temuilah DIA dengan caramu, Tetapi apabila kamu ingin mendengar DIA berbicara, memahami apa kehendakNya padamu, maka *IQRA'*, bacalah semua tanda cintaNya untuk kita, mulai dari surat cintaNya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita
Apa yang sudah teman-teman lakukan di proses nice homework #3 ini adalah proses *IQRA'*( membaca).
Dimulai dari membuat surat cinta. Mengapa harus membuat surat cinta? karena bagaimana anda bisa merasakan surat cintaNya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda.
Dan kita semua belajar bagaimana melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna biru π sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis di wall FB yang membuat hati makin mengharu biru.π
Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta, kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah ditentukan, _candle light_ dengan hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan. Tetapi DIA tetap mencintai kita, tanpa Pamrih.
Menyitir puisi Sapadi Djoko Damono,
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Maka tetaplah alirkan cinta kepada pasangan anda, anak-anak anda, jangan pernah berhenti, seberapapun menyakitkannya balasan yang anda terima.
Terima kasih untuk kebesaran hati teman-teman mempercayakan grup ini untuk menerima aliran rasa anda.
Setelah mengalirkan rasa, sekarang mulailah melihat dua kalimat yang sangat penting ini untuk memaknai apa makna sebuah *MISI KEHIDUPAN* :
*“Dua hari yang paling penting dalam hidupmu adalah hari pada saat kamu dilahirkan dan hari di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu dilahirkan”*
Setiap dari kita memiliki misi spesifik hidup yang sangat penting digunakan dalam membangun peradaban. Langkah berikutnya adalah kita akan dipertemukan dengan partner hidup kita, anak-anak kita dimana mereka membawa misi hidupnya sendiri-sendiri, dan bersama kita dalam sebuah keluarga. Beberapa gabungan misi spesifik hidup setiap anggota keluarga tersebut akan bersinergi membentuk sebuah misi spesifik keluarga. Inilah yang akan menjadi amunisi kekuatan kita untuk mengarungi samudera di atas bahtera rumah tangga, baik di saat ombak tenang, maupun saat badai menghadang.
Maka ada satu kalimat lagi yang bisa lebih membantu kita untuk memaknai apa arti sebuah misi keluarga.
*“Dua fase yang paling penting dalam hidupmu adalah fase di saat kamu bertemu dengan jodohmu dan fase di saat kamu menemukan jawaban mengapa kamu berdua dipertemukan”*
Dengan demikian makin paham kita bahwa semua menginginkan 'keberadaan' kita dan keluarga kita, Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia.
*"Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga "amanah" yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita."*
Semua keluarga berjalan menuju sebuah *VISI HIDUP*. Kesamaan visi hidup inilah yang membuat kita bisa bersama-sama dalam satu gerakan dengan saling menguatkan peran masing-masing sesuai dengan misi spesifik hidup dan keluarga masing-masing.
Inilah *VISI HIDUP* kita semua dalam membangun peradaban, terlalu berat apabila dikerjakan sendiri-sendiri, maka kerjakanlah dengan misi spesifik kita masing-masing.
Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri. Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu.
"Kuncinya bukan pada seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa *BERSUNGGUH-SUNGGUH* nya kita dalam menjalankan MISI HIDUP kita"
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber Bacaan :
_materi matrikulasi membangun peradaban dari dalam rumah, IIP, 2018_
_Tulisan-tulisan Nice Homework #3 dari para peserta matrikulasi IIP, 2018_
_Hasil diskusi penajaman misi hidup dengan bapak Dodik Mariyanto dan Abah Rama Royani_
Rabu, 07 Februari 2018
Ibu Profesional Matrikulasi Batch #5 NHW #3
NICE HOMEWORK #3
*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*
Bunda, setelah kita belajar tentang "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah" maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.
Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini.
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
Qodarulloohu wa maasyaa'a fa 'ala
Ketika tugas NHW #3 ini ada, pas kebeneran suami sedang tugas. Ada proyek dan tidak bisa di ganggu. Sebelum berangkat beliau sudah bilang bahwa akan ada proyek besar di laut dan akan sulit untuk menelepon ke rumah. Jadi jika tidak ada hal yang sangat penting, sebaiknya saya pun dimintanya untuk tidak usah menelepon ke laut.
Dulu sebelum kami menikah, saya sudah tahu bahwa tugas suami di offshore dengan tugas 2 minggu di laut dan 2 minggu off di darat. Dari awal sebelum menikah, saya sudah diberitahu oleh suami bahwa ketika beliau sedang di laut tidak ada kontak selain telepon dan email. Tidak ada sinyal untuk Whatsapp atau apapun sejenisnya. Telepon kabel pun harus melalui operator di jam kerja sehingga agak sulit untuk kami bisa telepon2an secara bebas dan leluasa.
Begitu pun email, harus melalui email kantor.
Jadi kalau bukan karena hal yang sangat penting sekali, suami melarang saya untuk email.
Dulu ketika awal2 menikah saya pernah email ke suami hanya untuk bilang saya kangen.. eh tapi responnya di luar dugaan, suami malah marah ππ
Katanya hal itu justru membuatnya terganggu di tengah-tengah kesibukannya.
Jadi yaa sudahlah, sekarang saya sudah paham dan berbesar hati menerima konsekuensi dari pekerjaan suami.
Dan ketika tugas NHW #3 ini selesai dibuat suami sedang tidak di rumah. Jadi saya belum bisa menuliskan bagaimana respon beliau setelah membaca surat saya.
Ini sebagian dari surat saya untuk Pak suami. Ehmm... tapi ga saya lampirkan semua yaa.. karena mumpung moment nya pas, sekalian saya luapkan semuanya π.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Dear bapak sayang...
Menjadi "kita" bukanlah hal mudah
Melalui delapan tahun pernikahan ini pun sangatlah tidak mudah
Bapak sayang...
Terima kasih sudah mau banyak bersabar menghadapiku
Terimakasih sudah menjadi pemimpin bagiku dan anak-anak
Terimakasih sudah menjadi pelindung bagi kami..
Bapak sayang...
Saya akui, Komunikasi kita tidaklah sama dengan pasangan yang lain.. tidak sehangat mereka, tidak seromantis mereka. Tapi anggaplah ini sebagai usaha bagiku untuk memperbaiki keadaan kita.. sebagai bentuk syukurku bahwa kita masih bisa bertahan dan bersama sampai saat ini..
Dari sekian riak dan gelombang yang kita lalui, hanya sabar dan syukur yang menjadi pegangan kita.
Selama masih ada celah untuk bersyukur, selama itu pula kita masih bisa bertahan
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan petunjuknya bagi kita.. memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kelangsungan rumah tangga kita.. aamiin..
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Itu sebagian dari suratnya yaa.. doakan yang terbaik bagi kelangsungan rumah tangga kami yaa... walau itu berat π.
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
Alhamdulillaah saya dikaruniai dua orang putri Annisa (7y) dan Najwa (4y).
Saya ceritakan tentang Annisa dulu yaa...
Sebagai anak pertama dimana ketika itu saya sangat minim pengetahuan tentang mengurus anak dan masih dalam tahap penyesuaian dalam berumah tangga, alhamdulillaah Annisa tumbuh menjadi anak yang baik.
Sifatnya agak sensitif dan romantis π. Jadi dia sering sekali memberikan surat cinta kepada saya. Untuk mengungkapkan isi hatinya dan rasa sayangnya terhadap ibu. Ahh sering sekali saya dibuatnya meleleh.
Di usianya yang tujuh tahun, Annisa memiliki hafalan 3 juz. Dan saya sangat mensyukuri hal tersebut. Proses menghafal dan murojaah yang tidak mudah bagi saya dan Annisa. Semoga Allah senantiasa memudahkan niat kami dan menjaga hati kami. Aamiin..
Kesukaannya adalah olahraga. Main sepeda, skuter, sepatu roda, main tenis meja juga bulu tangkis.
Usianya 5 tahun 8 bulan ketika masuk SD. Banyak pertentangan yaa dalam teori pendidikan karena usianya yang terlalu dini untuk masuk sekolah. Tapi karena beberapa pertimbangan maka saya dan suami tetap memasukkan Annisa ke SD .
Alhamdulillaah sejauh ini tidak ada masalah dan semoga tidak akan ada masalah ke depannya π.
Sekarang saya lanjutkan dengan cerita anak kedua saya, Najwa (4y).
Najwa punya tipe yang sangat berbeda dengan kakaknya. Najwa lebih ekspresif dan dominan. Kemauannya keras, agak bossy dan cepat kalau diminta mengambil keputusan π. Semoga kelak Najwa bisa menjadi pemimpin yang amanah ya...
Najwa suka sekali bermain peran. Najwa tidak suka menonton tv layaknya anak-anak seusianya. Dia lebih senang main rumah-rumahan, main masak-masakkan, main boneka atau berekspresi dengan barang-barang yang ada di rumah.
Najwa juga lebih berani dan percaya diri jika masuk ke lingkungan baru. Mudah beradaptasi dan mau menjawab jika ditanya oleh oranglain.
Karena usianya yang masih 4 tahun, jadi memang masih egosentris. Masih sulit berbagi. Tapi hal itu saya syukuri karena dia tahu mana yang menjadi miliknya dan semoga menjadi pelajaran baginya untuk tidak mengambil hak orang lain. Sebagaimana dia pun merasa tidak nyaman jika barang miliknya diambil orang π.
Demikian cerita megenai kedua putri saya. Bukan bermaksud sombong dan ujub yaa.. karena masih banyak hal yang perlu diperbaiki dari keduanya. Saya pun sedang berproses dengan dengan segala kekurangan saya sebagai ibu. Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua..
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
Rumah tangga kami tidaklah mudah. Banyak sekali rintangan yang kami hadapi dalam delapan tahun perjalanan pernikahan ini. Sampai saat ini pun kami masih berjuang π.
Semua orang bilang saya adalah orang yang sabar menghadapi karakter suami saya. Namun orang lain juga pasti bilang, suami saya adalah orang yang sabar menghadapi saya.hehe...
Saya orangnya nerima dan dapat dipercaya. Saya juga tipe orang rumahan yang ga suka kumpul-kumpul atau jalan-jalan bareng dengan teman. Oleh sebab itu Allah menjodohkan saya dengan suami yang tidak selalu stay dirumah. Karena ketika suami tidak ada, menjadi tanggung jawab saya untuk selalu menjaga kepercayaannya.
Saya juga tipe yang mau belajar. Walaupun kadang terkesan banyak teori dan sedikit praktek, tapi tidak mengapa. Asal jangan pernah berhenti belajar π.
Saya sama sekali tidak bisa memasak, tapi saya mau belajar. Sehingga anak-anak saya bilang bahwa saya adalah ibu yang jago masak. Padahal apa yang saya masak hanyalah makanan sederhana yang saya juga ga pede kalau orang lain, ( selain suami dan anak-anak ) mencicipi π.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
Kami tinggal di kavling yang hanya terdiri dari lima rumah saja. Depan rumah kami tembok π. Jadi memang terkesan individualis. Masing-masing tetangga adalah ibu bekerja dengan anak yang terkecilnya usia SMP.
Sesekali jika bertemu, kami hanya saling bertegur sapa.
Dengan tipe saya yang "rumahan" dan suami tipe yang tidak suka keramaian, yaa mungkin kami cocok dengan kondisi perumahan yang seperti ini.
Tidak banyak kendala yang kami hadapi disini, jadi walaupun hanya terdiri dari lima rumah dengan lima keluarga, tapi kami cukup rukun dan saling membantu.
Dulu tetangga pernah berdatangan ke rumah dan memberikan pertolongan ketika saya panik karena Najwa kejang dan suami sedang tidak di rumah. Dan hal tersebut adalah salah satu bukti bahwa walaupun kami terkesan "masing-masing" namun tetap ada perhatian.
Alhamdulillaah selesai juga tugas NHW #3 ini. Sebenarnya butuh perjuangan untuk bisa menyelesaikan tugas ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari cerita saya π.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
#NHW #3
#Kuliah Matrikulasi Batch #5
#Membangun peradaban dari dalam rumah
Senin, 05 Februari 2018
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #3
Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #3
_Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional_
*MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH*
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”
Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “*misi spesifiknya*”, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “*peran spesifik keluarga*” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.
Darimana kita harus memulainya?
*PRA NIKAH*
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:
a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?
Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan, dan tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
*ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK*
*NIKAH*
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
*ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)*
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.
a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?
Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,
_It Takes a Village to Raise a Child_
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak.
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang.
Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.
SUMBER BACAAN
_Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013_
_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_
_Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015_
_Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016_
Minggu, 04 Februari 2018
_Review Nice Home Work #2_
_Review Nice Home Work #2_
Disusun oleh
Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
*CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL*
Review Nice Home Work #2 Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini.
Kalau di Jawa ada pepatah yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (Jangan mau kalah dengan rasa malas). Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU.
Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa. Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga.
Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.
KOMITMEN DAN KONSISTEN
Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya. Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun “ DEEP HABIT” yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.
Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas “ SHALLOW WORK”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.
Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam _“shallow activities”,_ kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.
Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses *“peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu. Meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, tetapi kita bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori SHALLOW WORK menjadi DEEP WORK (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).*
Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :
1. Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.
2. Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah terukur?
misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau diganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"
3. Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.
Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan. Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)
4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online.
Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.
5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai bulan depan. Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya. Silakan teman-teman lihat kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.
Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari. Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.
Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber Bacaan :
Deep Work, Cal Newport, E book, akses 30 Oktober 2016.
Materi “MENJADI IBU PROFESIONAL” program Matrikulasi IIP, batch #5, 2018
Hasil Nice Home Work #2, peserta program Matrikulasi IIP batch #5, 2018
Disusun oleh
Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
*CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL*
Review Nice Home Work #2 Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini.
Kalau di Jawa ada pepatah yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (Jangan mau kalah dengan rasa malas). Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU.
Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa. Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga.
Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.
KOMITMEN DAN KONSISTEN
Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya. Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusun “ DEEP HABIT” yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.
Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas “ SHALLOW WORK”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.
Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam _“shallow activities”,_ kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.
Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses *“peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu. Meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, tetapi kita bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori SHALLOW WORK menjadi DEEP WORK (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).*
Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :
1. Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.
2. Apakah kalimat-kalimat di checklist sudah terukur?
misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau diganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"
3. Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.
Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan. Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)
4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online.
Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.
5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai bulan depan. Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya. Silakan teman-teman lihat kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.
Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari. Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.
Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/
Sumber Bacaan :
Deep Work, Cal Newport, E book, akses 30 Oktober 2016.
Materi “MENJADI IBU PROFESIONAL” program Matrikulasi IIP, batch #5, 2018
Hasil Nice Home Work #2, peserta program Matrikulasi IIP batch #5, 2018
MENGATASI ANAK SUSAH MAKAN
MENGATASI ANAK SUSAH MAKAN
Oleh:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fasilitator Pelatihan Orangtua di 7 Negara 27 Propinsi lebih dari 80 kota di Indonesia
Semua anak yang punya perut, pasti lapar! Jadi, kenapa ada susah makan, padahal ia tidak sedang sakit?
Membuat anak mau makan, bagi sebagian orangtua bukanlah perkara sulit. Terkadang yang muncul bukan susah makan, sekira 10% orangtua yang mengadukan anaknya soal makan kepada saya, justru anaknya malah susah diberhentikan makan. "Makan melulu anak saya abah. Mulutnya itu gak bisa nganggur! Anak kelas 4 SD berat badanya hampir segede ayahnya!", ujar seorang ibu kepada saya.
Akan tetapi, bagi sebagian orangtua yang lain, membuat anak mau makan bisa jadi tidak sepele dan tidak sederhana. Tak jarang perkara ini bisa jadi salah satu perkara yang membuat stres orangtua.
Betapa tidak, jika anaknya susah makan, akibatnya asupan gizi anak jadi kurang. Akibatnya tubuh anak memiliki daya tahan yang lemah. Akibatnya anak jadi gampang sakit.
Belum lagi yang paling berat jika sudah muncul komentar dari nenek-kakek anak-anak "bisa ngurus anak gak sih!" Apalagi jika yang ngomong nenek "sebelah". Duh pedas! "Tatitnya tu di tini..." (Sambil serius nunjuk dada).
Jika orangtua sudah sampai pada titik dan tak mampu menghadapi tekanannya, selanjutnya bisa jadi malah anak yang jadi obyek pelampiasan emosi negatif orangtua. "Gara-gara kamu nih Mama jadi dimarahin nenek!"
"Anak saya 6 tahun, mau makan sih, tapi kalau makan maunya disuapin. Kalau nggak disuapin. Sampai sore pun tidak akan makan", keluh seorang orangtua di Medan.
"Anak saya kalau di sekolah makannya sering habis. Tapi kalau di rumah kok susah banget!" Kata seorang ibu di Yogya.
"Aduh saya sudah melakukan segala cara abah. Anak saya kurus kering gara-gara susah makan. Padahal saya sudah berikan anak saya vitamin ini itu, dicekokin jamu, datangi dokter anak, psikolog dan berbagai hal. Masih saja anak saya sussh makan! Bagaimana ini?" Kata seorang ibu lain di Makassar.
Hasil pengamatan saya dengan banyak orangtua yang "sharing" dengan saya soal ini, biasanya anak-anak susah makan berlangsung ketika berusia antara usia 1,5 tahun sampai kira-kira 7 tahun. Dengan puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun.
Inilah fase dimana masa ego anak berkembang. Inilah fase dimana anak merasa "aku adalah diri yang terpisah dari mama papa." Inilah fase dimana anak merasa bahwa ia adalah bagian tersendiri yang terpisah dari orang dewasa. Inilah fase dimana anak ingin menunjukkan eksistensinya. Pantas saja orang bule menyebutnya "The Terrible Two atau "The Terrible Three".
Jika kita perhatikan dengan seksama diantara banyak sebab anak susah makan ada dua penyebab dominan anak susah makan selain sebab-sebab lainnya. Sekali lagi, saya sebut sebab dominan, karena diuar dua sebab ini mungkin ada sebab-sebab lain yang menimbulkan anak susah makan, tapi dua sebab inilah yang paling sering menyebabkannya.
Yang pertama saya sebut sebab alamiah (nature) yaitu karena ada masalah dengan tubuh anak berkaitan dengan kesehatannya. Penyebab kedua adalah karena pola asuh yang kurang tepat yang saya sebut penyebab buatan (nurture). Ada juga sebagian kecil orangtua yang menyangka anaknya susah makan karena kurangnya variasi makan dan rasa makanan yang mungkin kurang lezat
Di luar dua sebab dominan, sebab yang terakhir, meski dalam beberapa kasus sungguh-sungguh terjadi, penyebab anak susah makan karena bermasalah dengan variasi makannya, sesungguhnya adalah turunan dari sebab kedua: pola asuh yang tidak tepat. Nanti saya akan jelaskan logikanya. Karena itu dalam tulisan ini, saya akan lebih banyak memfokuskan pada dua sebab dominan tadi.
Penyebab anak susah makan yang alamiah ini diantaranya mulutnya lagi sariawan sehingga kesakitan mengunyah, gigi baru tumbuh, sakit gigi, alergi makanan tertentu atau juga karena ada gangguan pada bagian pencernaan anak. Bisa juga sakit lainnya seperti sakit demam atau lainnya yang diakibatkan serangan virus dan bakteri. Kita tahu, jangankan anak, pun kita orang dewasa saat dalam keadaan sakit, rasanya makan sangat tak selesa dan tak selera.
Solusi untuk masalah susah makan karena sebab pertama, tidak ada kata lain selain sabar dan ikhtiar. Bersabar menghadapi anak saat kesakitan dan terus berikhtiar menyembuhkan sakitnya sehingga akhirnya anak menjadi berselera makan kembali.
Jika anak dalam keadaan sehat, tidak ada ganggun pada pencernaannya, tidak ada pada mulut, lidah atau giginya, kemungkinan besar anak susah makan adalah karena sebab kedua: pola asuh yang kurang tepat. Maksudnya?
Katakanlah anak dalam keadaan sehat atau tidak dalam keadaan sakit. Lalu Anda mengeluh anak Anda susah makan seperti diceritakan 3 orangtua di Medan, Semarang dan Yogya sebelumnya. Saya ingin Anda membayangkan situasinya.
Misalkan suatu hari di penghujung bulan, Anda meninggalkan anak balita Anda di rumah bersama kakaknya yang sudah SMP. Lalu, Anda harus meninggalkan anak seharian di hari libur dari pagi setelah sarapan sampai sore hari. Misalnya anak Anda dari pagi di rumah terus. Tidak ada snack tersedia di dalam lemari es. Pun sewaktu di rumah Anda hanya memasak nasi dan lupa menyiapkan lauk untuk makan siang anak Anda karena terburu-buru. Yang Anda tahu, hanya tersedia kecap di dapur bekas makan nasi goreng tadi pagi.
Menurut Anda jika pada saat siang hari anak Anda kelaparan dah hanya tersedia nasi dan kecap, kira-kira anak Anda makan tidak?
Saya tidak tahu dengan jawaban Anda, tapi ketika saya tanyakan ini pada sekumpulan peserta pelatihan saya yang jumlah sekali pelatihan biasanya 100-200 orang ini, jawaban mereka kebanyakan sama persis "ya pasti makanlah!"
Lalu saya tanya lagi kepada yang menjawab hampir sama tadi "jadi, jika tidak ada orangtua, anak mau makan, tapi jika ada orangtua, anak malas makan. Penyebabnya siapa?"
"Orangtua"! Jawaban mereka terkekeh.
Jadi, makanan enak, lezat dan variatif itu sebenarnya nomor sekian. Buktinya, meski makan dengan kecap doang anak mau makan kan?
Penyebab anak susah makan ternyata orangtua sendiri, diperkuat juga dengan kenyataan bahwa ternyata sebagian anak balita ada yang mau menghabiskan makanan saat di sekolah tapi tidak saat di rumah.
Kok orangtua? Orangtua yang mana? Lebih sering terjadi pada orangtua-orangtua yang tipe lembek pada anak. Buka lembut pada anak lho ya, tapi lembek. Tidak berarti orangtua-orangtua ini tidak pernah marahin anak. Orangtua lembek adalah orangtua yang seringkali dikalahkan oleh anak lalu menuruti keinginan anak hanya karena anak nangis, teriak, rewel dan ngamuk.
Sebagian mereka memang bahkan mencubit, membentak atau memukul anak tapi eh dipenuhi juga keinginan anak gara-gara anak nangis. Galak di awal, ujungnya lembek. Bahasa lainnya, kasar tapi lembek. Kebalikan dari pola asuh yang lebih positif: lembut tapi tegas, tegas tapi lembut.
Demikian juga pada kasus anak susah makan. Di luar sebab anak tengah sakit, sesungguhnya saya heran kalau ada orangtua yang cerita anaknya susah makan.
Konsep dasarnya begini: semua anak punya perut kan? Semua yang punya perut jika kita manusia yang normal, insya Allah akan lapar! Semua orang yang lapar insya Allah membutuhkan makanan. Begitu kan? Lalu kenapa jadi susah makan? Heran tidak tuh!
Ya penyebabnya karena pola asuh lembek tadi!
Kasus 1: Andi (4 tahun) pagi-pagi setelah mandi langsung tancap gas ke luar rumah. Ia memanggil teman sebayanya abidah (3 tahun) dan Umar (4 tahun).
"Makan dulu nak!" Panggil ibunya.
"Nggak mau!"
"Nanti kamu sakit!"
"Nggak akan!"
Digotonglah anak ini masuk ke dalam rumah. "Eh ini anak kabur lagi!" Susah anak ini diajak makan. Giliran jajan aja mau!
Kasus 2: Nisa (3 tahun) sudah bangun dari sejak jam 5. Ia asyik nonton tv pagi-pagi lalu main sendirian dengan balok-balok mainnya.
Kata ibunya "Disuruh makan susah banget. Sudah dibujuk rayu, diancam gak diajak pergi. Gak ngaruh! " Bingung saya.
Terus apa yang dilakukan ibu ini?
"Daripada anak saya mati kelaparan, ya saya kasih susu sama snack".
Kasus 3: Nadya (5 tahun), kalau makan pilih-pilih. Kalau tidak sesuai dengan keinginannya, pasti dia tak mau makan. Apalagi kalau disuruh makan sayur, susahnya minta ampun!
"Padahal saya sudah katakan sama dia kalau tak makan tidak apa. Ibu tidak akan maksa. Eh sampai sore anak ini kuat tak makan!"
Apa yang dapat dilakukan dengan semua kejadian ini?! Berdoalah agar Anda dikuatkan untuk mempraktikkan apa yang akan saya jelaskan berikutnya. Tidak akan mudah buat orangtua MALAS, tapi tak sulit untuk orangtua yang BERSUNGGUH-SUNGGUH.
Usul saya, lakukan pendekatan pertama:pendekatan nilai dan ilmu pengetahuan. Sering-seringlah bercerita, mendongenglah dengan anak baik dengen media buku ataupun secara oral yang isi cerita atau dongengnya memiliki pesan "manfaat makanan untuk tubuh". Berikan anak penjelasan apa fungsi makanan, bagaimana makan yang sehat, seperti apa makanan halal dan thoyyib dan apa akibatnya jika tak melakukannya?"
Lakukan dengan sering. Tidak akan berdampak sebulan dua bulan kelihatan hasilnya memang. Tapi secara jangka panjang, 5-10 tahun kemudian, insya Allah akan terekam dalam pikiran bawah sadar anak.
Cukup? Tentu saja tidak! "Dari dulu juga sudah saya kasih penjelasan kalau sekadar pendekatan begini! Tapi gak 'ngefek' ", begitu bisa jadi yang akan Anda katakan ketika saya menawarkan pendekatan pertama ini. Syukurlah Anda melakukannya. Jika belum, lakukanlah. Insya Allah bermanfaat kelak sampai anak dewasa.
Tambahkan pendekatan yang kedua: makanlah selalu berjamaah! Jangan pernah anak dibiarkan makan sendirian. Ketika semua anggota keluarga makan berkumpul, maka anak Anda akan memahami "oh semua orang di rumah ini harus makan ya?"
Jangan sampai ibu makan di meja makan, ayah makan di sofa, lalu anak makan di teras rumah! Aduh! Keluarga macam apa ini? Makan berjamaahlah, ini bagian dari sunnah Rasul kita.
Makan sendiri-sendiri dan makan berjamaah akan memberikan "semangat" berbeda untuk anak termotivasi makan.
Setelah pendekatan kedua Anda lakukan, sekarang saatnya Anda lakukan pendekatan ketiga: pendekatan ketegasan. Inilah biang kerok utama penyebab anak jadi susah makan. Beberapa contoh kasus yang saya contohkan dari awal tulisan ini hakikatnya adalah kurangnya ketegasan orangtua pada anak.
Maksudnya anak harus dipaksa makan? Saya tidak mengatakan begitu. Baca baik-baik penjelasan saya berikutnya.
Kasus 1
Andi (4 tahun) pagi-pagi setelah mandi langsung tancap gas ke luar rumah. Ia memanggil teman sebayanya abidah (3 tahun) dan Umar (4 tahun).
"Makan dulu nak!" Panggil ibunya.
Lakukan ini "ibu tidak akan maksa kamu makan. Kalau belum mau makan tidak apa nak. Tapi maaf kamu tidak bisa dulu main keluar rumah."
Lalu sekarang Anda kunci pintu akses keluar rumah. Titik. Tak usah banyak bicara.
Kira-kira apa yang akan terjadi? Bisa jari salah satu hal berikut:
a. anak menangis dengan kerasb. anak menyerang secara fisik lalu ngamukc. anak memprovokasi orangtua dengan kalimat yang mungkin dapat menyayat hati orangtua "mama jahat! Mama gak sepeti ayah!"
Apa yang dapat Anda lakukan?
a. "Kalau mau nangis, silahkan. Kalau sudah berhenti nanti boleh dekatin mama ya. "
b. "Adik marah ya? Boleh marah tapi tidak menyakiti ibu dan tidak merusak barang. Berhenti ya." (Time In!). Lalu ketika anak tak berhenti Anda gotong anak di kamar, kunci dari luar selama 4 menit (Time Out!).
Setelah 4 menit anda peluk anak "mama minta maaf ya, tapi kalau mukul mama dan merusak barang lagi. Mama terpaksa menyimpan kamu lagi di dalam kamar.
C. "Gak apa apa kamu mau ngomog apapun ya nak. Karena mama sayang kamu, maka mama harus melakukan ini".
Selanjutnya jangan banyak bicara. Kunci saja jangan sampai lolos keluar rumah.
Lakukan ini secara berulang. Kira-kira 10-20x Anda melakukan ini dan tak membiarkan anak lolos keluar rumah Anda, insya Allah anak Anda akan mulai melakukan apa yang Anda minta "adik boleh kok main keluar rumah, tapi setelah makan ya nak!"
"Tapi dicuapin ya?" nah kalau sudah ngomong begini, tanda anak Anda sudah berhasil Anda taklukkan. Mau disuapin atau tidak terserah Anda.
"Anak saya gak jadi keluar rumah karena saya kunci. Tapi anak saya tetap tak mau makan Abah! Eh malah asyik membongkar kotak mainannya!"
Ambil kotak mainannya. Yang sudah dikeluarkan masukkan lagi. "Tidak bisa ambil mainan dulu nak sebelum makan. Juga kamu gak bisa nonton tv dulu, tidak boleh baca buku dulu, tidak boleh sebelum makan! Jika mau makan silahkan jika tidak, tidak apa belum mau makan. Tapi tak bisa melakukan apapun dulu ya nak!"
Kasus 2:
Nisa (3 tahun) sudah bangun dari sejak jam 5. Ia asyik nonton tv pagi-pagi lalu main sendirian dengan balok-balok mainnya.
Kata ibunya "Disuruh makan susah banget. Sudah dibujuk rayu, diancam gak diajak pergi. Gak ngaruh! " Bingung saya.
Terus apa yang dilakukan ibu ini?
"Daripada anak saya mati kelaparan, ya saya kasih susu sama snack".
Parents, ini dia yang sering membuat orangtua menyerah. Akibat anak tak mau makan eh anakknya dijejali susu dan snack.
Menurut Anda jika anak sering-sering makan snack atau jajandi luar? Apakah anak jadi semangat di rumah?
Sebagian besar anak yang terlalu sering jajan akan malas untuk makan di rumah. Karena pada dasarnya, ukuran perut anaknya ya "segitu-gitu" saja.
Demikian juga akibat tidak sabar, akhirnya anak jadi tambah malas makan ketika dikasi susu. Lah anak jadi merasa cepat kenyang kan? Jika anak anda termasuk yang tidak susah makan, saat pagi hari, mau dikasi susu kek, mau dikasi snack kek, gak masalah sebenarnya. Masalahnya sekarang, yang kita bicarakan adalah anak yang susah makan kan? Apa yang akan terjadi saat anak susah makan malah dijejali susu dan snack?! Tambah susah makan dong!
Akibat tidak tegaan, akhirnya orangtua terpaksa memberikan anaknya susu. Memang sih susu itu baik. Tapi jika setiap pagi sarapannya hanya susu, gizinya seimbang tidak? Apakah bagus untuk tubuh anak?
Akibat gizinya tak seimbang, apakah anak akan lincah berlari? Akan ceria bermain? Akibatnya, akibatnya, akibat selanjutnya (sengaja saya ulang-ulang biar 'ngeh!') tumbuh kembangnya terhambat.
Apa yang dapat dilakukan? Biarkan anak lapar! Jika anak tidur habis isya insya Allah secara alamiah anak akan bangun shubuh. Makin tidur larut makin bangunnya juga tambah siang. Jika anak bangun dari shubuh, secara normal insya Allah anak sebenarnya akan lapar otomatis kira-kira pukul 7-8. Kecuali Anda yg baru mau praktik merubah kebiasaan lembek menjadi tegas, paling telat-telat, anak Anda akan lapar dan minta makan kira-kira jam 10.
Jika anak mau makan karena lapar atas permintaan sendiri dan bukan dipaksa makan, insya Allah makannya akan lahap,Meski hanya dengan telur ceplok sekalipun!
Jadi ingat-ingat ya rumus utamanya supaya anak berminat makan: "biarkan anak lapar!"
Menurut Anda, makan yang paling "di dunia" itu kapan?" Saat makan di restaurant mahal? Saat makan di hotel berbintang? Saat makan di tengah sawah ditemani angin semilir? Itu semua bisa betul. Tapi tiap orang bisa beda pendapatnya. Tapi bagaimana kalau saya ngomong salah satu momen paling enak makan adalah saat kita tengah buka puasa? Saya yakin banyak orang berpendapat sama!
Saat lapar, jangankan makanan enak, makanan tidak enak pun: ular, tikus, daun-daunan, mungkin saja terpaksa disantap jika kondisinya Anda tersesat di tengah hutan dan Anda belum makan 3 hari 3 malam!
Bahkan jika Anda melakukan tiga pendekatan ini, tanpa harus disuapin, tanpa harus anak dipaksa mulutnya untuk membuka, tanpa harus diiming-imingi reward: dibelikan ini dan itu. Insya Allah anak akan makan. Ingat, anak kita punya perut. Semua yang punya perut akan lapar jika dia dalam keadaan normal (tidak sakit). Dan semua yang lapar insya Allah makan.
Dengan izin Allah sekira 1 tahun yang lalu seorang ibu di Makassar mengatakan ini "Abah, mungkin Abah lupa dengan saya. Alhamdulillah abah anak sekarang makannya sudah lahap! Sudah gak kurus kering lagi. Anak saya 5 tahun Abah, sekarang badannya gemuk. Makan apa saja sekarang gak rewel.
Padahal waktu dia 3 tahun saya stress banget. Susah banget anak saya makan. Saya sudah melakukan banyak cara: dikasih vitamin, minyak ikan, obat ini itu, konsultasi ke sana kemari. Ternyata ketika saya melaksanakan apa yang Abah katakan di Pelatihan Progra Disiplin Anak (salah satu jenis kursus orangtua yang saya selenggarakan), sederhana sekali, penyebabnya sebenarnya saya yang kurang sabaran. Dahulu, saya maksa-maksa anak makan. Padahal ketika anak saya biarkan lapar, dia gampang banget makan."
Segala puji bagi Allah yang telah menguatkan orangtua ini. Masih kesulitan? Silahkan email saya.
Salam yuk-jadi orangtua shalih..
Oleh:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fasilitator Pelatihan Orangtua di 7 Negara 27 Propinsi lebih dari 80 kota di Indonesia
Semua anak yang punya perut, pasti lapar! Jadi, kenapa ada susah makan, padahal ia tidak sedang sakit?
Membuat anak mau makan, bagi sebagian orangtua bukanlah perkara sulit. Terkadang yang muncul bukan susah makan, sekira 10% orangtua yang mengadukan anaknya soal makan kepada saya, justru anaknya malah susah diberhentikan makan. "Makan melulu anak saya abah. Mulutnya itu gak bisa nganggur! Anak kelas 4 SD berat badanya hampir segede ayahnya!", ujar seorang ibu kepada saya.
Akan tetapi, bagi sebagian orangtua yang lain, membuat anak mau makan bisa jadi tidak sepele dan tidak sederhana. Tak jarang perkara ini bisa jadi salah satu perkara yang membuat stres orangtua.
Betapa tidak, jika anaknya susah makan, akibatnya asupan gizi anak jadi kurang. Akibatnya tubuh anak memiliki daya tahan yang lemah. Akibatnya anak jadi gampang sakit.
Belum lagi yang paling berat jika sudah muncul komentar dari nenek-kakek anak-anak "bisa ngurus anak gak sih!" Apalagi jika yang ngomong nenek "sebelah". Duh pedas! "Tatitnya tu di tini..." (Sambil serius nunjuk dada).
Jika orangtua sudah sampai pada titik dan tak mampu menghadapi tekanannya, selanjutnya bisa jadi malah anak yang jadi obyek pelampiasan emosi negatif orangtua. "Gara-gara kamu nih Mama jadi dimarahin nenek!"
"Anak saya 6 tahun, mau makan sih, tapi kalau makan maunya disuapin. Kalau nggak disuapin. Sampai sore pun tidak akan makan", keluh seorang orangtua di Medan.
"Anak saya kalau di sekolah makannya sering habis. Tapi kalau di rumah kok susah banget!" Kata seorang ibu di Yogya.
"Aduh saya sudah melakukan segala cara abah. Anak saya kurus kering gara-gara susah makan. Padahal saya sudah berikan anak saya vitamin ini itu, dicekokin jamu, datangi dokter anak, psikolog dan berbagai hal. Masih saja anak saya sussh makan! Bagaimana ini?" Kata seorang ibu lain di Makassar.
Hasil pengamatan saya dengan banyak orangtua yang "sharing" dengan saya soal ini, biasanya anak-anak susah makan berlangsung ketika berusia antara usia 1,5 tahun sampai kira-kira 7 tahun. Dengan puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun.
Inilah fase dimana masa ego anak berkembang. Inilah fase dimana anak merasa "aku adalah diri yang terpisah dari mama papa." Inilah fase dimana anak merasa bahwa ia adalah bagian tersendiri yang terpisah dari orang dewasa. Inilah fase dimana anak ingin menunjukkan eksistensinya. Pantas saja orang bule menyebutnya "The Terrible Two atau "The Terrible Three".
Jika kita perhatikan dengan seksama diantara banyak sebab anak susah makan ada dua penyebab dominan anak susah makan selain sebab-sebab lainnya. Sekali lagi, saya sebut sebab dominan, karena diuar dua sebab ini mungkin ada sebab-sebab lain yang menimbulkan anak susah makan, tapi dua sebab inilah yang paling sering menyebabkannya.
Yang pertama saya sebut sebab alamiah (nature) yaitu karena ada masalah dengan tubuh anak berkaitan dengan kesehatannya. Penyebab kedua adalah karena pola asuh yang kurang tepat yang saya sebut penyebab buatan (nurture). Ada juga sebagian kecil orangtua yang menyangka anaknya susah makan karena kurangnya variasi makan dan rasa makanan yang mungkin kurang lezat
Di luar dua sebab dominan, sebab yang terakhir, meski dalam beberapa kasus sungguh-sungguh terjadi, penyebab anak susah makan karena bermasalah dengan variasi makannya, sesungguhnya adalah turunan dari sebab kedua: pola asuh yang tidak tepat. Nanti saya akan jelaskan logikanya. Karena itu dalam tulisan ini, saya akan lebih banyak memfokuskan pada dua sebab dominan tadi.
Penyebab anak susah makan yang alamiah ini diantaranya mulutnya lagi sariawan sehingga kesakitan mengunyah, gigi baru tumbuh, sakit gigi, alergi makanan tertentu atau juga karena ada gangguan pada bagian pencernaan anak. Bisa juga sakit lainnya seperti sakit demam atau lainnya yang diakibatkan serangan virus dan bakteri. Kita tahu, jangankan anak, pun kita orang dewasa saat dalam keadaan sakit, rasanya makan sangat tak selesa dan tak selera.
Solusi untuk masalah susah makan karena sebab pertama, tidak ada kata lain selain sabar dan ikhtiar. Bersabar menghadapi anak saat kesakitan dan terus berikhtiar menyembuhkan sakitnya sehingga akhirnya anak menjadi berselera makan kembali.
Jika anak dalam keadaan sehat, tidak ada ganggun pada pencernaannya, tidak ada pada mulut, lidah atau giginya, kemungkinan besar anak susah makan adalah karena sebab kedua: pola asuh yang kurang tepat. Maksudnya?
Katakanlah anak dalam keadaan sehat atau tidak dalam keadaan sakit. Lalu Anda mengeluh anak Anda susah makan seperti diceritakan 3 orangtua di Medan, Semarang dan Yogya sebelumnya. Saya ingin Anda membayangkan situasinya.
Misalkan suatu hari di penghujung bulan, Anda meninggalkan anak balita Anda di rumah bersama kakaknya yang sudah SMP. Lalu, Anda harus meninggalkan anak seharian di hari libur dari pagi setelah sarapan sampai sore hari. Misalnya anak Anda dari pagi di rumah terus. Tidak ada snack tersedia di dalam lemari es. Pun sewaktu di rumah Anda hanya memasak nasi dan lupa menyiapkan lauk untuk makan siang anak Anda karena terburu-buru. Yang Anda tahu, hanya tersedia kecap di dapur bekas makan nasi goreng tadi pagi.
Menurut Anda jika pada saat siang hari anak Anda kelaparan dah hanya tersedia nasi dan kecap, kira-kira anak Anda makan tidak?
Saya tidak tahu dengan jawaban Anda, tapi ketika saya tanyakan ini pada sekumpulan peserta pelatihan saya yang jumlah sekali pelatihan biasanya 100-200 orang ini, jawaban mereka kebanyakan sama persis "ya pasti makanlah!"
Lalu saya tanya lagi kepada yang menjawab hampir sama tadi "jadi, jika tidak ada orangtua, anak mau makan, tapi jika ada orangtua, anak malas makan. Penyebabnya siapa?"
"Orangtua"! Jawaban mereka terkekeh.
Jadi, makanan enak, lezat dan variatif itu sebenarnya nomor sekian. Buktinya, meski makan dengan kecap doang anak mau makan kan?
Penyebab anak susah makan ternyata orangtua sendiri, diperkuat juga dengan kenyataan bahwa ternyata sebagian anak balita ada yang mau menghabiskan makanan saat di sekolah tapi tidak saat di rumah.
Kok orangtua? Orangtua yang mana? Lebih sering terjadi pada orangtua-orangtua yang tipe lembek pada anak. Buka lembut pada anak lho ya, tapi lembek. Tidak berarti orangtua-orangtua ini tidak pernah marahin anak. Orangtua lembek adalah orangtua yang seringkali dikalahkan oleh anak lalu menuruti keinginan anak hanya karena anak nangis, teriak, rewel dan ngamuk.
Sebagian mereka memang bahkan mencubit, membentak atau memukul anak tapi eh dipenuhi juga keinginan anak gara-gara anak nangis. Galak di awal, ujungnya lembek. Bahasa lainnya, kasar tapi lembek. Kebalikan dari pola asuh yang lebih positif: lembut tapi tegas, tegas tapi lembut.
Demikian juga pada kasus anak susah makan. Di luar sebab anak tengah sakit, sesungguhnya saya heran kalau ada orangtua yang cerita anaknya susah makan.
Konsep dasarnya begini: semua anak punya perut kan? Semua yang punya perut jika kita manusia yang normal, insya Allah akan lapar! Semua orang yang lapar insya Allah membutuhkan makanan. Begitu kan? Lalu kenapa jadi susah makan? Heran tidak tuh!
Ya penyebabnya karena pola asuh lembek tadi!
Kasus 1: Andi (4 tahun) pagi-pagi setelah mandi langsung tancap gas ke luar rumah. Ia memanggil teman sebayanya abidah (3 tahun) dan Umar (4 tahun).
"Makan dulu nak!" Panggil ibunya.
"Nggak mau!"
"Nanti kamu sakit!"
"Nggak akan!"
Digotonglah anak ini masuk ke dalam rumah. "Eh ini anak kabur lagi!" Susah anak ini diajak makan. Giliran jajan aja mau!
Kasus 2: Nisa (3 tahun) sudah bangun dari sejak jam 5. Ia asyik nonton tv pagi-pagi lalu main sendirian dengan balok-balok mainnya.
Kata ibunya "Disuruh makan susah banget. Sudah dibujuk rayu, diancam gak diajak pergi. Gak ngaruh! " Bingung saya.
Terus apa yang dilakukan ibu ini?
"Daripada anak saya mati kelaparan, ya saya kasih susu sama snack".
Kasus 3: Nadya (5 tahun), kalau makan pilih-pilih. Kalau tidak sesuai dengan keinginannya, pasti dia tak mau makan. Apalagi kalau disuruh makan sayur, susahnya minta ampun!
"Padahal saya sudah katakan sama dia kalau tak makan tidak apa. Ibu tidak akan maksa. Eh sampai sore anak ini kuat tak makan!"
Apa yang dapat dilakukan dengan semua kejadian ini?! Berdoalah agar Anda dikuatkan untuk mempraktikkan apa yang akan saya jelaskan berikutnya. Tidak akan mudah buat orangtua MALAS, tapi tak sulit untuk orangtua yang BERSUNGGUH-SUNGGUH.
Usul saya, lakukan pendekatan pertama:pendekatan nilai dan ilmu pengetahuan. Sering-seringlah bercerita, mendongenglah dengan anak baik dengen media buku ataupun secara oral yang isi cerita atau dongengnya memiliki pesan "manfaat makanan untuk tubuh". Berikan anak penjelasan apa fungsi makanan, bagaimana makan yang sehat, seperti apa makanan halal dan thoyyib dan apa akibatnya jika tak melakukannya?"
Lakukan dengan sering. Tidak akan berdampak sebulan dua bulan kelihatan hasilnya memang. Tapi secara jangka panjang, 5-10 tahun kemudian, insya Allah akan terekam dalam pikiran bawah sadar anak.
Cukup? Tentu saja tidak! "Dari dulu juga sudah saya kasih penjelasan kalau sekadar pendekatan begini! Tapi gak 'ngefek' ", begitu bisa jadi yang akan Anda katakan ketika saya menawarkan pendekatan pertama ini. Syukurlah Anda melakukannya. Jika belum, lakukanlah. Insya Allah bermanfaat kelak sampai anak dewasa.
Tambahkan pendekatan yang kedua: makanlah selalu berjamaah! Jangan pernah anak dibiarkan makan sendirian. Ketika semua anggota keluarga makan berkumpul, maka anak Anda akan memahami "oh semua orang di rumah ini harus makan ya?"
Jangan sampai ibu makan di meja makan, ayah makan di sofa, lalu anak makan di teras rumah! Aduh! Keluarga macam apa ini? Makan berjamaahlah, ini bagian dari sunnah Rasul kita.
Makan sendiri-sendiri dan makan berjamaah akan memberikan "semangat" berbeda untuk anak termotivasi makan.
Setelah pendekatan kedua Anda lakukan, sekarang saatnya Anda lakukan pendekatan ketiga: pendekatan ketegasan. Inilah biang kerok utama penyebab anak jadi susah makan. Beberapa contoh kasus yang saya contohkan dari awal tulisan ini hakikatnya adalah kurangnya ketegasan orangtua pada anak.
Maksudnya anak harus dipaksa makan? Saya tidak mengatakan begitu. Baca baik-baik penjelasan saya berikutnya.
Kasus 1
Andi (4 tahun) pagi-pagi setelah mandi langsung tancap gas ke luar rumah. Ia memanggil teman sebayanya abidah (3 tahun) dan Umar (4 tahun).
"Makan dulu nak!" Panggil ibunya.
Lakukan ini "ibu tidak akan maksa kamu makan. Kalau belum mau makan tidak apa nak. Tapi maaf kamu tidak bisa dulu main keluar rumah."
Lalu sekarang Anda kunci pintu akses keluar rumah. Titik. Tak usah banyak bicara.
Kira-kira apa yang akan terjadi? Bisa jari salah satu hal berikut:
a. anak menangis dengan kerasb. anak menyerang secara fisik lalu ngamukc. anak memprovokasi orangtua dengan kalimat yang mungkin dapat menyayat hati orangtua "mama jahat! Mama gak sepeti ayah!"
Apa yang dapat Anda lakukan?
a. "Kalau mau nangis, silahkan. Kalau sudah berhenti nanti boleh dekatin mama ya. "
b. "Adik marah ya? Boleh marah tapi tidak menyakiti ibu dan tidak merusak barang. Berhenti ya." (Time In!). Lalu ketika anak tak berhenti Anda gotong anak di kamar, kunci dari luar selama 4 menit (Time Out!).
Setelah 4 menit anda peluk anak "mama minta maaf ya, tapi kalau mukul mama dan merusak barang lagi. Mama terpaksa menyimpan kamu lagi di dalam kamar.
C. "Gak apa apa kamu mau ngomog apapun ya nak. Karena mama sayang kamu, maka mama harus melakukan ini".
Selanjutnya jangan banyak bicara. Kunci saja jangan sampai lolos keluar rumah.
Lakukan ini secara berulang. Kira-kira 10-20x Anda melakukan ini dan tak membiarkan anak lolos keluar rumah Anda, insya Allah anak Anda akan mulai melakukan apa yang Anda minta "adik boleh kok main keluar rumah, tapi setelah makan ya nak!"
"Tapi dicuapin ya?" nah kalau sudah ngomong begini, tanda anak Anda sudah berhasil Anda taklukkan. Mau disuapin atau tidak terserah Anda.
"Anak saya gak jadi keluar rumah karena saya kunci. Tapi anak saya tetap tak mau makan Abah! Eh malah asyik membongkar kotak mainannya!"
Ambil kotak mainannya. Yang sudah dikeluarkan masukkan lagi. "Tidak bisa ambil mainan dulu nak sebelum makan. Juga kamu gak bisa nonton tv dulu, tidak boleh baca buku dulu, tidak boleh sebelum makan! Jika mau makan silahkan jika tidak, tidak apa belum mau makan. Tapi tak bisa melakukan apapun dulu ya nak!"
Kasus 2:
Nisa (3 tahun) sudah bangun dari sejak jam 5. Ia asyik nonton tv pagi-pagi lalu main sendirian dengan balok-balok mainnya.
Kata ibunya "Disuruh makan susah banget. Sudah dibujuk rayu, diancam gak diajak pergi. Gak ngaruh! " Bingung saya.
Terus apa yang dilakukan ibu ini?
"Daripada anak saya mati kelaparan, ya saya kasih susu sama snack".
Parents, ini dia yang sering membuat orangtua menyerah. Akibat anak tak mau makan eh anakknya dijejali susu dan snack.
Menurut Anda jika anak sering-sering makan snack atau jajandi luar? Apakah anak jadi semangat di rumah?
Sebagian besar anak yang terlalu sering jajan akan malas untuk makan di rumah. Karena pada dasarnya, ukuran perut anaknya ya "segitu-gitu" saja.
Demikian juga akibat tidak sabar, akhirnya anak jadi tambah malas makan ketika dikasi susu. Lah anak jadi merasa cepat kenyang kan? Jika anak anda termasuk yang tidak susah makan, saat pagi hari, mau dikasi susu kek, mau dikasi snack kek, gak masalah sebenarnya. Masalahnya sekarang, yang kita bicarakan adalah anak yang susah makan kan? Apa yang akan terjadi saat anak susah makan malah dijejali susu dan snack?! Tambah susah makan dong!
Akibat tidak tegaan, akhirnya orangtua terpaksa memberikan anaknya susu. Memang sih susu itu baik. Tapi jika setiap pagi sarapannya hanya susu, gizinya seimbang tidak? Apakah bagus untuk tubuh anak?
Akibat gizinya tak seimbang, apakah anak akan lincah berlari? Akan ceria bermain? Akibatnya, akibatnya, akibat selanjutnya (sengaja saya ulang-ulang biar 'ngeh!') tumbuh kembangnya terhambat.
Apa yang dapat dilakukan? Biarkan anak lapar! Jika anak tidur habis isya insya Allah secara alamiah anak akan bangun shubuh. Makin tidur larut makin bangunnya juga tambah siang. Jika anak bangun dari shubuh, secara normal insya Allah anak sebenarnya akan lapar otomatis kira-kira pukul 7-8. Kecuali Anda yg baru mau praktik merubah kebiasaan lembek menjadi tegas, paling telat-telat, anak Anda akan lapar dan minta makan kira-kira jam 10.
Jika anak mau makan karena lapar atas permintaan sendiri dan bukan dipaksa makan, insya Allah makannya akan lahap,Meski hanya dengan telur ceplok sekalipun!
Jadi ingat-ingat ya rumus utamanya supaya anak berminat makan: "biarkan anak lapar!"
Menurut Anda, makan yang paling "di dunia" itu kapan?" Saat makan di restaurant mahal? Saat makan di hotel berbintang? Saat makan di tengah sawah ditemani angin semilir? Itu semua bisa betul. Tapi tiap orang bisa beda pendapatnya. Tapi bagaimana kalau saya ngomong salah satu momen paling enak makan adalah saat kita tengah buka puasa? Saya yakin banyak orang berpendapat sama!
Saat lapar, jangankan makanan enak, makanan tidak enak pun: ular, tikus, daun-daunan, mungkin saja terpaksa disantap jika kondisinya Anda tersesat di tengah hutan dan Anda belum makan 3 hari 3 malam!
Bahkan jika Anda melakukan tiga pendekatan ini, tanpa harus disuapin, tanpa harus anak dipaksa mulutnya untuk membuka, tanpa harus diiming-imingi reward: dibelikan ini dan itu. Insya Allah anak akan makan. Ingat, anak kita punya perut. Semua yang punya perut akan lapar jika dia dalam keadaan normal (tidak sakit). Dan semua yang lapar insya Allah makan.
Dengan izin Allah sekira 1 tahun yang lalu seorang ibu di Makassar mengatakan ini "Abah, mungkin Abah lupa dengan saya. Alhamdulillah abah anak sekarang makannya sudah lahap! Sudah gak kurus kering lagi. Anak saya 5 tahun Abah, sekarang badannya gemuk. Makan apa saja sekarang gak rewel.
Padahal waktu dia 3 tahun saya stress banget. Susah banget anak saya makan. Saya sudah melakukan banyak cara: dikasih vitamin, minyak ikan, obat ini itu, konsultasi ke sana kemari. Ternyata ketika saya melaksanakan apa yang Abah katakan di Pelatihan Progra Disiplin Anak (salah satu jenis kursus orangtua yang saya selenggarakan), sederhana sekali, penyebabnya sebenarnya saya yang kurang sabaran. Dahulu, saya maksa-maksa anak makan. Padahal ketika anak saya biarkan lapar, dia gampang banget makan."
Segala puji bagi Allah yang telah menguatkan orangtua ini. Masih kesulitan? Silahkan email saya.
Salam yuk-jadi orangtua shalih..
Kamis, 01 Februari 2018
Ibu Profesional Matrikulasi Batch #5 NHW #2
π *NICE HOME WORK #2*π
π ✅ *"CHECKLIST INDIKATOR* ✅π
PROFESIONALISME PEREMPUAN"*
Tugas pekan kedua NHW #2 adalah membuat checklist indikator profesionalisme perempuan
a, Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu
Kunci dari membuat Indikator kita singkat
menjadi SMART yaitu
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1
bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah
dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi
kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (Berikan batas waktu)
---------------------------------------------------
Semenak dapat tugas NHW #2 ini saya melakukan banyak diskusi dengan anak-anak dan pak suami mengenai pendapat mereka tentang saya selama ini dan apa harapan mereka terhadap saya, apa-apa saja yang membuat mereka bahagia.
Kalau anak-anak mah simple, mereka cuma mau ibu yang ga suka marah-marah π’. Deuuh berarti selama ini saya dikenal mereka sebagai ibu yang pemarah.
Kalau dengan pak suami juga lebih simple lagi, beliau cuma pengen saya nurut dengan apa yang beliau perintahkan. Karena katanya, selama ibu bisa nurut, semua udah cukup π.
Nahh kaaan brati selama ini sayaaa.... π’
Indikator-indikator ini saya susun untuk satu bulan kedepan yaitu selama bulan Februari 2018. Semoga saya bisa menjalankannya dengan disiplin sehingga tercapai apa yang saya harapkan yaitu menjadi ibu profesional π
a. Sebagai Individu
π΅Tujuan : Menjadi pribadi yang berkarakter dan percaya diri
πΊMemperbaiki hubungan dengan Allah, yaitu :
- memperbaiki dan menyempurnakan bacaan dan gerakan sholat sehingga tercapai tuma'ninah dan khusyu' ketika sholat
- membiasakan sholat sunnah rawatib qobliyah Subuh
- membiasakan sholat tahajud 2 rakaat
- membiasakan sholat duha 2 rakaat
- tilawah Al-Quran 1 minggu 1 juz
- membiasakan zikir pagi dan petang
- membiasakan sholat witir sebelum tidur
- menyelesaikan hafalan surah pilihan (Al-Mulk)
- menyalin materi dan menjawab evaluasi HSI dengan disiplin
πΊMeningkatkan kemampuan memasak :
- mencoba satu resep baru di akhir pekan
πΊMemiliki tubuh yang sehat dan wajah yang bersih bebas jerawat
-skincare rutin pagi dan malam
-masker wajah dua hari sekali
-olahraga seminggu sekali
B. Sebagai Istri
π΅Tujuan : Menjadi Istri yang menyenangkan hati suami ππ
- tampil bersih dan wangi di hadapan suami
- mendengarkan dengan seksama ketika suami bicara
- tidak memotong pembicaraan ketika suami sedang bicara
- taat terhadap perintah suami dalam hal yang mubah dan sesuai syariat
C. Sebagai Ibu
πΈ Tujuan : Menjadi Ibu yang dapat diteladani dan dikenang dengan baik oleh anak
- memberi pelukan setiap hari
- lebih sabar dan menahan amarah
-membaca buku bersama
- memasak bersama anak menu-menu sederhana seminggu sekali
- membuat satu kreasi (kerajinan tangan) seminggu sekali
- menemani anak-anak menambah hafalan dan murojaah dengan sepenuh hati
Alhamdulillaah.. selesei tugas NHW #2 ini. semoga Allah memudahkan usaha saya dalam berlatih menjadi ibu profesional. Semoga istiqomah πππ
Salam lbu Profesional,
/Tim Matrikulasi Institut lbu Profesional/
#NHW #2
#Kuliah Matrikulasi Batch #5
#Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga
π ✅ *"CHECKLIST INDIKATOR* ✅π
PROFESIONALISME PEREMPUAN"*
Tugas pekan kedua NHW #2 adalah membuat checklist indikator profesionalisme perempuan
a, Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu
Kunci dari membuat Indikator kita singkat
menjadi SMART yaitu
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1
bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah
dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi
kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND (Berikan batas waktu)
---------------------------------------------------
Semenak dapat tugas NHW #2 ini saya melakukan banyak diskusi dengan anak-anak dan pak suami mengenai pendapat mereka tentang saya selama ini dan apa harapan mereka terhadap saya, apa-apa saja yang membuat mereka bahagia.
Kalau anak-anak mah simple, mereka cuma mau ibu yang ga suka marah-marah π’. Deuuh berarti selama ini saya dikenal mereka sebagai ibu yang pemarah.
Kalau dengan pak suami juga lebih simple lagi, beliau cuma pengen saya nurut dengan apa yang beliau perintahkan. Karena katanya, selama ibu bisa nurut, semua udah cukup π.
Nahh kaaan brati selama ini sayaaa.... π’
Indikator-indikator ini saya susun untuk satu bulan kedepan yaitu selama bulan Februari 2018. Semoga saya bisa menjalankannya dengan disiplin sehingga tercapai apa yang saya harapkan yaitu menjadi ibu profesional π
a. Sebagai Individu
π΅Tujuan : Menjadi pribadi yang berkarakter dan percaya diri
πΊMemperbaiki hubungan dengan Allah, yaitu :
- memperbaiki dan menyempurnakan bacaan dan gerakan sholat sehingga tercapai tuma'ninah dan khusyu' ketika sholat
- membiasakan sholat sunnah rawatib qobliyah Subuh
- membiasakan sholat tahajud 2 rakaat
- membiasakan sholat duha 2 rakaat
- tilawah Al-Quran 1 minggu 1 juz
- membiasakan zikir pagi dan petang
- membiasakan sholat witir sebelum tidur
- menyelesaikan hafalan surah pilihan (Al-Mulk)
- menyalin materi dan menjawab evaluasi HSI dengan disiplin
πΊMeningkatkan kemampuan memasak :
- mencoba satu resep baru di akhir pekan
πΊMemiliki tubuh yang sehat dan wajah yang bersih bebas jerawat
-skincare rutin pagi dan malam
-masker wajah dua hari sekali
-olahraga seminggu sekali
B. Sebagai Istri
π΅Tujuan : Menjadi Istri yang menyenangkan hati suami ππ
- tampil bersih dan wangi di hadapan suami
- mendengarkan dengan seksama ketika suami bicara
- tidak memotong pembicaraan ketika suami sedang bicara
- taat terhadap perintah suami dalam hal yang mubah dan sesuai syariat
C. Sebagai Ibu
πΈ Tujuan : Menjadi Ibu yang dapat diteladani dan dikenang dengan baik oleh anak
- memberi pelukan setiap hari
- lebih sabar dan menahan amarah
-membaca buku bersama
- memasak bersama anak menu-menu sederhana seminggu sekali
- membuat satu kreasi (kerajinan tangan) seminggu sekali
- menemani anak-anak menambah hafalan dan murojaah dengan sepenuh hati
Alhamdulillaah.. selesei tugas NHW #2 ini. semoga Allah memudahkan usaha saya dalam berlatih menjadi ibu profesional. Semoga istiqomah πππ
Salam lbu Profesional,
/Tim Matrikulasi Institut lbu Profesional/
#NHW #2
#Kuliah Matrikulasi Batch #5
#Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga
Langganan:
Postingan (Atom)






