Selasa, 24 April 2018

HSR materi 3 :persiapan keluarga memghadapi akhir zaman

*Materi 03. Persiapan Keluarga Menghadapi Akhir Zaman*
(Versi WA, mohon maaf kalau ada tulisan arab yg terbalik, silahkan cek versi pdf utk tulisan utuh)

Oleh: Ust Kardita

*Materi 03. Versi WA* (Tanpa Tulisan Arab)

Persiapan Keluarga Menghadapi Akhir Zaman
Tanda-tanda Akhir Zaman
Akhir zaman adalah kondisi dimana sudah makin mendekatnya peristiwa Hari Kiamat yang sangat dahsyat. Tentang kapan datangnya hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui, baik Malaikat, Nabi, maupun Rasul, masalah ini adalah perkara ghaib dan hanya Allah saja yang mengetahuinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi saw yang shahih.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya penge-tahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]
يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا
“Manusia bertanya kepadamu tentang hari Berbangkit. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu wahai (Muhammad), boleh jadi hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.” [Al-Ahzaab: 63]
Juga ketika Malaikat Jibril as mendatangi Nabi Muhammad saw kemudian bertanya:
…فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ؟
“Kabarkanlah kepadaku, kapan terjadi Kiamat?”
Kemudian Nabi saw menjawab:
مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.
“Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.”
[HSR. Muslim (no. 2, 3, 4 dan 8), Abu Dawud (no. 4605, 4697), at-Tirmidzi (no. 2610), Ibnu Majah (no. 63) dan Ahmad (I/52)].
Meskipun waktu terjadinya hari Kiamat tidak ada yang mengetahuinya, akan tetapi Allah swt telah memberikan isyaratnya dalam Al-Qur’an bahwa tanda-tandanya akan mendahuluinya sebagaimana firman-Nya:
 فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً فَقَدْ جَآءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَآءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang”. (QS. 47:18)
Disamping itu Allah swt telah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang tanda-tanda Kiamat tersebut, baik itu  tanda-tanda kecil ataupun tanda-tanda besar. Tanda-tanda kecil sangat banyak dan sudah terjadi sejak zaman dahulu di antaranya adalah:  wafatnya Nabi Muhammad saw, munculnya banyak fitnah, timbulnya firqah Khawarij, munculnya orang yang mengaku sebagai Nabi, hilangnya amanah, diangkatnya ilmu dan merajalelanya kebodohan, banyaknya perzinaan, banyak orang yang minum khamr (minuman keras) dan merebaknya perjudian, masjid-masjid dihias, banyak bangunan yang tinggi, budak melahirkan tuannya, banyaknya pembunuhan, banyaknya kesyirikan, banyaknya orang yang memutuskan silaturrahim, banyaknya orang yang bakhil, wafatnya para ulama dan orang-orang shalih, banyaknya orang yang belajar kepada Ahlul Bid’ah, dan lain-lain. Rasulullah saw bersabda:
اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.
“Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [HR. Al-Bukhari (no. 3176), dari Sahabat ‘Auf bin Malik]
Rasulullah saw juga bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا.
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah: diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, dan merajalelanya perzinaan.”[HR. Al-Bukhari (no. 80)]
Kemudian munculnya tanda-tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda Kiamat besar, para ulama Ahlus Sunnah membahas permasalahan ini dalam kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits, dan kitab-kitab ‘aqidah, seperti dalam kitab Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah dan kitab-kitab lainnya.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani tentang adanya tanda-tanda Kiamat yang besar (kubra) seperti, keluarnya Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa as dari langit, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, dan yang lainnya. Rasulullah bersabda:

إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ
“Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) penenggelaman permukaan bumi di Jazirah Arab, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang meng-giring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.”
[HR. Muslim (no. 2901 (40)), Abu Dawud (no. 4311), at-Tirmidzi (no. 2183), Ibnu Majah (no. 4055), Imam Ahmad (IV/6), dari Sahabat Hudzaifah bin Asiid Radhiyallahu anhu dan ini lafazh Muslim. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiiq Musnadil Imam Ahmad (no. 16087)].

Fitnah Akhir Zaman
Nabi saw telah menceritakan bahwa salah satu dekatnya kiamat adalah banyaknya fitnah dan huru-hara yang akan terjadi kepada umat manusia dan secara khusus akan menimpa kepada umat Islam. Fitnah datang bagaikan gelombang yang silih berganti datang menerpa pantai. Fitnah syubuhat meluluh-lantahkan agama seorang muslim, dan fitnah syahwat yang menjerumuskannya ke dalam kubangan maksiat, begitu dahsyatnya menyambar-nyambar dan menjungkir balikkan keluarga muslim di akhir zaman.
Di saat itu iman manusia mudah tergoncang. Bahkan saking beratnya fitnah yang dihadapi manusia, ada diantara mereka yang di waktu pagi dalam keadaan beriman di sore hari sudah menjadi kufur. Di sore hari mereka beriman ketika masuk waktu pagi mereka telah kufur. Sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya sebelum terjadinya hari kiamat akan timbul berbagai fitnah bagaikan sepotong malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman, tetapi pada sore harinya telah menjadi kafir. Pada saat itu orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Karena itu pecahkanlah kekerasanmu, potonglah tali busurmu, dan pukulkanlah pedangmu ke batu (yakni jangan kamu gunakan untuk memukul atau membunuh manusia). Jika salah seorang diantara kamu terlibat dalam urusan (fitnah) itu, maka hendaklah ia bersikap seperti sikap terbaik dari dua orang putera Adam (yakni bersikap seperti Habil, jangan seperti Qabil)”. (HR. Ahmad 4:408, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih al Jami’ al Shaghir 2:193, hadits No. 2045)
Penggambaran fitnah laksana potongan malam yang amat pekat itu menunjukkan betapa berat dan berbahayanya fitnah itu. Ini merupakan peringatan penting bagi setiap Muslim dan keluarga muslim, bahwa banyaknya fitnah yang menyebabkan seseorang murtad merupakan tanda dekatnya akhir zaman.
Tentang fitnah yang bisa membuat kaum Muslimin terperosok pada kekufuran setelah keimanannya, diperkuat dalam riwayat yang menjelaskan tentang kemunculan fitnah duhaima’. Riwayat tentang fitnah duhaima’ bercerita tentang masa-masa yang akan dihadapi oleh kaum Muslimin menjelang keluarnya Dajjal untuk menebar fitnah dan huru-hara. Rasulullah saw bersabda: “Setelah itu akan terjadi fitnah Duhaima’, yang tidak membiarkan seorang pun dari umat ini kecuali akan ditamparnya dengan tamparan yang keras. Ketika orang-orang mengatakan, “Fitnah telah selesai”, ternyata fitnah itu masih saja terjadi. Di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman, namun di waktu sore ia telah menjadi orang kafir. Akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan beriman yang tidak ada kemunafikan sedikit pun di antara mereka, dan golongan munafik yang tidak ada keimanan sedikit pun di antara mereka. Jika hal itu telah terjadi, maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya.”  [HR. Abu Dawud no. 3704, Ahmad no. 5892, dan Al-Hakim no. 8574. Dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi]
Hadits di atas mengisyaratkan hakikat fitnah Duhaima’ akan meluas mengenai seluruh umat ini. Meskipun manusia menyatakan fitnah tersebut telah berhenti, ia akan terus berlangsung dan bahkan mencapai puncaknya. Beliau menerangkan tentang efek yang ditimbulkan oleh fitnah ini, yaitu munculnya sekelompok manusia yang di waktu pagi masih memiliki iman, namun di sore hari telah menjadi kafir. Ini merupakan sebuah gambaran tentang kedahsyatan fitnah tersebut. Fitnah ini akan mencabut keimanan seseorang hanya dalam bilangan hari, dan ini juga merupakan sebuah gambaran betapa cepatnya kondisi seseorang itu berubah.
Demikian dahsyatnya fitnah Duhaima’, fitnah akhir zaman yang membuat orang berbolak balik hatinya. Ekstrimnya, mereka yang terperangkap dalam fitnah ini pagi hari masih membaca Al-Qur’an di masjid, namun di sore hari sudah melakukan kebaktian di gereja. Di pagi hari masih menutup aurat dengan jilbabnya, namun di sore hari sudah berganti pakaian ala artis barat yang menyingkat auratnya.
Pada masa akhir zaman kondisi umat manusia dalam titik yang sangat memprihatinkan. Terjadinya penurunan dan kemunduran dalam keimanan dan keagamaan. Keshalihan mulai dinodai oleh berbagai kemaksiatan dan kemungkaran. Keadilan mulai digantikan oleh kezhaliman. Tauhid mulai diselingi, bahkan dicampuri oleh kesyirikan. Sunnah Rasulullah mulai dilupakan dan ditinggalkan, sementara bid’ah mulai digeluti dan digemari. Keamanan mulai menjadi barang langka, sementara kekacauan mulai hangat terasa. Penipuan, kedustaan, penyalahgunaan amanat, dan kerusakan sosial lainnya menjadi pemandangan sehari-hari. Demikianlah keadaan umum umat manusia di akhir zaman. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits sahih:
لا يأتي عليكم زمان إلا الذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم

“Tidak datang kepada kalian sebuah zaman, kecuali zaman yang sesudahnya akan lebih buruk lagi keadaannya. Hal demikian itu akan terus berlangsung sampai kalian menghadap Rabb kalian”. (HR. Bukhari No. 6541)

Rasulullah saw juga bersabda:

غنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah saw bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidlah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidlah itu?” beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.” (HR. Ibnu Majah)


Persiapan Keluarga Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

Fitnah Akhir zaman yang akan menimpa seorang muslim begitu dahsyatnya bahkan hampir-hampir membinasakan dan memporak-porandakan sendi-sendi kehidupannya dan keluarganya. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Amr bin Ash disebutkan:

وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ.

“Akan datang fitnah sehingga berkata seorang mukmin: ”inilah fitnah yang membinasakanku, kemudian fitnah tersebut hilang … kemudian dia datang kembali sehingga berkata seorang mukmin: mungkin inilah .. inilah (yang membinasakanku).” [HR.Muslim]
Rasulullah saw berpesan dan memerintahkan kepada kita untuk menjaga keluarga kita ketika fitnah akhir zaman terjadi karena keluarga merupakan benteng pertahanan terkokoh dalam menghadapi kekacauan dan fitnah tersebut. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bagaimana denganmu jika kamu berada di tengah kekacauan (fitnah), janji janji dan amanat mereka abaikan, kemudian mereka berselisih seperti ini ?” Lalu, beliau menyilangkan antara jari jari. Abdullah bin Amr bertanya,” Lalu , dengan apa engkau menyuruhku?” Beliau menjawab, “Jagalah rumah, keluargamu, lidahmu, dan lakukanlah apa yang kamu tahu dan tinggalkan yang mungkar, serta berhati hatilah dengan urusanmu sendiri, lalu tinggalkanlah perkara yang umum “ (HR Abu Daud dan Nasa’i)
Sebaik-baiknya cara dalam mengahadapi badai dan gelombang fitnah tadi adalah dengan mengikuti perintah dan petunjuk Rasulullah saw agar setiap keluarga muslim memperbanyak amal-amal kebaikan. Rasulullah saw pernah bersabda:

بادروا بالأعمال فتنا كقطع الليل المظلم...
“Bersegeralah kalian melakukan amal sholeh sebelum datangnya fitnah, dimana fitnah itu seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita”. (HR. Muslim)

Pertama: Membentengi Diri dan Keluarga dengan Iman dan Ketaqwaan
Kebaikan keluarga akan berpengaruh kepada kebaikan masyarakat, dan kebaikan masyarakat akan berpengaruh kepada kebaikan negara. Oleh karena itu, Islam banyak memberikan perhatian terhadap masalah perbaikan keluarga. Di antara perhatian Islam adalah bahwa seseorang yang telah berumah tangga, harus menjaga diri dan keluarganya dari segala perkara yang akan menghantarkan menuju neraka.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. [at-Tahrîm/66:6]

Allâh Maha kasih sayang kepada para hamba-Nya. Jika Dia memberikan perintah, pasti itu merupakan kebaikan dan bermanfaat, dan jika Dia memberikan larangan, pasti itu merupakan keburukan dan berbahaya.
Abdullah bin Mas’ûd dan para Ulama Salaf rahimahumullâh berkata, “Jika engkau mendengar Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam al-Qur’ân ‘Hai orang-orang yang beriman’, maka perhatikanlah ayat itu dengan telingamu, karena itu merupakan kebaikan yang Dia perintahkan kepadamu, atau keburukan yang Dia melarangmu darinya”. [Tafsir Ibnu Katsir, 1/80]
Kebaikan yang Allâh perintahkan dalam ayat ini, adalah agar kaum Mukminin menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka. Bagaimana caranya?
Abdullah bin Abbâs berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allâh dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyelamatkanmu dari neraka”.
Mujâhid berkata tentang firman Allâh ‘peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’, “Bertakwalah kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu agar bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla ”.
Qatâdah berkata, “(Menjaga keluarga dari neraka adalah dengan) memerintahkan mereka untuk bertakwa kepada Allâh dan melarang mereka dari kemaksiatan kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mengatur mereka dengan perintah Allâh Azza wa Jalla, memerintahkan mereka untuk melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla, dan membantu mereka untuk melaksanakan perintah Allâh. Maka jika engkau melihat suatu kemaksiatan yang merupakan larangan Allâh, maka engkau harus menghentikan dan melarang keluarga(mu) dari kemaksiatan itu”.
Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Allâh Yang Maha Tinggi sebutannya berfirman, ‘Wahai orang-orang yang membenarkan Allâh dan RasulNya ‘Peliharalah dirimu!’, yaitu maksudnya, ‘Hendaklah sebagian kamu mengajarkan kepada sebagian yang lain perkara yang dengannya orang yang kamu ajari bisa menjaga diri dari neraka, menolak neraka darinya, jika diamalkan. Yaitu ketaatan kepada Allâh. Dan lakukanlah ketaatan kepada Allâh. Firman Allâh ‘dan keluargamu dari api neraka!’, Maksudnya, ‘Ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allâh yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka. [Tafsir ath-Thabari, 23/491]
Imam al-Alûsi berkata, “Menjaga diri dari neraka adalah dengan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan-ketaatan. Sedangkan menjaga keluarga adalah dengan mendorong mereka untuk melakukan hal itu dengan nasehat dan ta’dîb (hukuman) … Yang dimaksud dengan keluarga, berdasarkan sebagian pendapat mencakup: istri, anak, budak laki, dan budak perempuan. Ayat ini dijadikan dalil atas kewajiban seorang laki-laki mempelajari kewajiban-kewajiban dan mengajarkannya kepada mereka ini”. [Tafsir al-Alûsi, 21/101]
Semakna ayat ini adalah firman Allâh :
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaha/20: 132]
Semakna dengan ayat ini adalah sabda Nabi :
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ
Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing. [HR. al-Hâkim, Ahmad dan Abu Dâwud; disahihkan al-Albâni dalam al-Irwâ`]
Mengajari ibadah kepada anak-anak bukan hanya shalat, namun juga ibadah-ibadah lainnya. Imam Ibnu Katsir berkata, “Para ahli fiqih berkata: ‘Demikian juga (anak-anak dilatih) tentang puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya untuk melaksanakan ibadah, supaya dia mencapai dewasa dengan selalu melaksanakan ibadah dan ketaatan, serta menjauhi kemaksiatan dan meninggalkan kemungkaran, dan Allâh Yang Memberikan taufiq”. [Tafsir Ibnu Katsîr, surat at-Tahrîm ayat ke-6]
Orang yang paling sukses dan paling mulia disisi Allah adalah yang paling taqwa, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. 49:13)

Untuk mencapai kemulian dan terhindar dari  perkara yang mencelakakan, kita membutuhkan dua hal:
1. I’tisham bihablillah. Hal ini dengan komitmen terhadap syariat Allah dan berusaha merealisasikannya dalam semua sisi kehidupan kita. Sehingga dengan ini kita selamat dari kesesatan.
2. I’tisham billah. Hal ini diwujudkan dalam tawakkal dan berserah diri serta memohon pertolongan kepada Allah dari seluruh rintangan dan halangan mewujudkan I’tisham bihablillah.

Imam Ibnu Al Qayyim menyatakan: “Poros kebahagian duniawi dan ukhrawi ada pada i’tisham billahi dan i’tisham bihablillah. Tidak ada kesuksesan kecuali bagi orang yang komitmen dengan dua hal ini. I’tisham bihablillah melindungi seseorang dari kesesatan dan i’tisham billahi melindungi seseorang dari kehancuran.  (Bada’i Al Tafasir Al Jaami’ Litafsir Imam Ibni Qayyim Al Jauziyah, karya Yasri Al Sayyid Muhammad, terbitan Dar Ibnul Jauzi 1/506-507).

Kedua: Memperbanyak Doa dan Dzikir
Doa adalah senjata yang manjur dalam menghadapi fitnah. Seorang hamba senantiasa membutuhkan untuk senantiasa bermohon kepada Rabnya agar diri dan keluarganya dijaga dari fitnah. Rasulullah –yang senantiasa diperkuat dengan wahyu- selalu berdoa agar dijauhkan diri dari fitnah. Berkata Anas bin Malik:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ.رواه الترمذي
Adalah Rasulullah senantiasa berdoa: ”Wahai Zat yang membolak-balikkan hati tetapkan hati kami di atas agamamu. Aku bertanya:wahai Rasulullah apakah anda khawatir dengan kami? Beliau menjawab: ya, sesungguhnya hati-hati ini diantara jari-jemari Allah dan dia berkuasa membolak-balikkannya sebagaimana yang dia kehendaki. [HR. Tirmizi]
Hanya Allah yang Maha Menjaga, maka berdoalah agar istiqamah mengerjakan kebaikan, bersabar meninggalkan kemaksiatan, lemah lembut dan kasih sayang, serta dijauhkan fitnah sebagaimana yang Rasul contohkan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ.
“Ya Allah, sesungguhnya Aku bermohon padamu agar dapat melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, agar aku mencintai orang-orang miskim, dan seandainya Engkau menurunkan pada hamba-hambamu Mu fitnah, maka cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak terfitnah”. [HR. Tirmizi dan Ahmad]
للَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari siksa Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan fitnah Al Masih Ad Dajjal” (HR. Muslim no. 588).
Demikian pula dzikir merupakan kebutuhan pokok ruhani. Dzikir adalah makanan pokok bagi hati, tanpanya hati akan mati. Dzikir adalah senjata utama untuk menolak bujuk rayu syetan. Dzikir adalah ibadah lisan dan hati yang menjadikan seseorang hidup jiwa dan raganya. Sarana yang mendekatkan diri kepada Sang Kholik yang akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Rasulullah saw pernah bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) tuhannya dan orang yang tidak berdzikir (mengingat) tuhannya seperti orang yang hidup dan orang yang mati”. (HR. Bukhari No. 5928)
Ternyata dengan dzikir yang kita amalkan mampu menghindarkan diri dan keluarga dari berbagai fitnah akhir zaman, diantaranya:
Tasbih, tahlil, tahmid dan takbir menjadi makanan dan minuman fisik saat kaum muslimin mengalami bencana kekeringan dan kelaparan ekstrim selama 3 tahun sebelum kemunculan dajjal.
Dzikir dan doa menghindarkan harta dan nyawa kaum muslimin dari bencana alam, di saat akhir zaman sering terjadi gempa bumi, hujan meteor,kegelapan pekat, dan pengubahan bentuk manusia. Bahkan dzikir bisa mengubah bencana menjadi sebuah berkah.
Dzikir dan doa mampu membentengi diri dari fitnah Duhaima yang mengawali keluarnya dajjal.
Dzikir dan doa mampu mementahkan semua tipu daya, kepalsuan, dan kekuatan dajjal.

Ketiga: Menimba Ilmu
Fitnah akhir zaman begitu dahsyatnya, maka seorang mukmin tidak akan mampu menghadapinya kecuali dengan kekuatan ilmu dan persiapan matang menghadapinya. Kisah pemuda yang selamat dari fitnah Dajjal tatkala inggin membinasakannya adalah contoh suri tauladan bagi kita bahwa ilmu tentang sunnah lah yang menyelamatkannya.
Ibnu Majah meriwayatkan dengan jalannya dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata: Suatu hari Rasulullah berpidato kepada kami dan beliau banyak menceritakan perihal Dajjal dan mengingatkan kami darinya, dan diantara perkataanya:
“Sesungguhnya tidak ada fitnah di bumi sejak Allah sebarkan keturunan Adam yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal, dan sesungguhnya Allah tidaklah mengutus seorang Nabipun kecuali memperingatkan ummatnya tentang Dajjal, dan aku adalah Nabi terakhir dan kalianlah umat terakhir, dan dia (Dajjal) akan keluar di masa kalian secara pasti, seandainya dia keluar diantara kalian sekarang maka  aku akan menjadi pembela setiap muslim, tetapi jika dia keluar setelahku maka tiap muslim hendaklah membentengi dirinya masing-masing dan Allahlah penggantiku atas tiap muslim, dan sesungguhnya dia akan keluar dari sebuah tempat antara Syam dan Irak dan dia akan berjalan ke kiri dan ke kanan, wahai hamba Allah hendaklah kalian tegar, sesungguhnya aku akan menceritakan pada kalian ciri-cirinya yang tidak pernah disebutkan oleh Nabi sebelumku. Dia akan mulai dengan mengklaim bahwa dirinya adalah Nabi-padahal tiada nabi setelahku kemudian dakwaannya meningkat dengan mengatakan: akulah Tuhan kalian padahal kalian tidak akan pernah melihat Tuhan kalian hingga kalian wafat dan sesungguhnya ia (Dajjal) bermata picak sementara Tuhan kalian tidak bermata picak dan sesungguhnya tertulis diantara kedua matanya “kafir” yang dapat dibaca oleh setiap orang mukmin baik yang dapat menulis ataupun tidak dapat menulis. Dan sesungguhnya diantara fitnahnya bahwa bersamanya ada surga dan neraka, sebenarnya nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka, maka barang siapa yang diuji untuk masuk ke nerakanya hendaklah beristighatsah memohon bantuan Allah dan membaca awal dari surat Al-Kahfi, maka api tersebut akan menjadi dingin dan penuh keselamatan sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim. Dan diatara fitnahnya bahwa dia akan berkata pada seorang Arab badui: bagaimana jika kuhidupkan kembali ayah dan ibumu, apakah engkau yakin bahwa aku adalah tuhanmu? Dia menjawab; ya, maka dua syetan merubah wujudnya meniru bentuk kedua orang tuanya, ayah dan ibunya dan keduanya berkata padanya: wahai anakku ikutilah dia sesungguhnya dia adalah Rabbmu. Dan diantara fitnahnya adalah dia diberikan kekuasaan untuk menaklukkan seseorang, maka dajjal membunuhnya dan memisahkan tubuhnya menjadi dua potongan kemudian berkata: ”lihatlah pada hambaku ini sesungguhnya aku sekarang akan kembali membangkitkannya, sementara dia menganggap ada tuhan selainku, maka Allah membangkitkannya dan berkata Dajjal- yang keji- siapa tuhanmu dia menjawab : Rabku adalah Allah dan kamu adalah musuh Allah, engkaulah Dajjal, dan demi Allah aku semangkin jelas hari ini bahwa engkaulah dia. [HR. Ibnu Majah]
Modal utama untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah dengan mengenal ajaran Islam dengan benar, karena dengan ilmu akan hal ini, seseorang pasti tidak akan tertipu dengan tipu muslihat Dajjal. Dajjal itu manusia biasa yang butuh makan dan minum, sedangkan Allah tidak demikian. Dajjal itu picak, sedangkan Allah tidak. Tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah di dunia sampai ia mati. Adapun Dajjal bisa dilihat oleh manusia baik yang mukmin maupun yang kafir. Mengenai hal ini, kita dapat melihat pada kisah yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri berikut ini:
“Dajjal muncul lalu seseorang dari kalangan kaum mu`minin menuju ke arahnya lalu bala tentara Dajjal yang bersenjata menemuinya, mereka bertanya, ‘Kau mau kemana? ‘ Mu`min itu menjawab, ‘Hendak ke orang yang muncul itu.’ Mereka bertanya, ‘Apa kau tidak beriman ada tuhan kami? ‘ Mu`min itu menjawab: ‘Rabb kami tidaklah samar.’ Mereka berkata, ‘Bunuh dia.’ Lalu mereka saling berkata satu sama lain, ‘Bukankah tuhan kita melarang kalian membunuh seorang pun selain dia.’ Mereka membawanya menuju Dajjal. Saat orang mu`min melihatnya, ia berkata, ‘Wahai sekalian manusia, inilah Dajjal yang disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu Dajjal memerintahkan agar dibelah. Ia berkata, ‘Ambil dan belahlah dia.’ Punggung dan perutnya dipenuhi pukulan lalu Dajjal bertanya, ‘Apa kau tidak beriman padaku? ‘ Mu`min itu menjawab, ‘Kau adalah Al Masih pendusta? ‘ Lalu Dajjal memerintahkannya digergaji dari ujung kepala hingga pertengahan antara kedua kaki. Setelah itu Dajjal berjalan di antara dua potongan tubuh itu lalu berkata, ‘Berdirilah!’ Tubuh itu pun berdiri. Selanjutnya Dajjal bertanya padanya, ‘Apa kau beriman padaku?’ Ia menjawab, ‘Aku semakin mengetahuimu.’ Setelah itu Dajjal berkata, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dilakukan seperti ini setelahku.’ Lalu Dajjal mengambilnya untuk disembelih, kemudian antara leher dan tulang selangkanya diberi perak, tapi Dajjal tidak mampu membunuhnya. Kemudian kedua tangan dan kaki orang itu diambil lalu dilemparkan, orang-orang mengiranya dilempari ke neraka, tapi sesungguhnya ia dilemparkan ke surga.” Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia adalah manusia yang kesaksiannya paling agung di sisi Rabb seluruh alam” (HR. Muslim no. 2938).
Ilmu yang benar dan amal sholeh adalah penyebab hidayah dan keistiqomahan bagi manusia. Semoga Allah menjadikan kita hamba sebagai yang hamba-Nya yang mencintai Ilmu.

Keempat: Berdakwah dan Menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Fitnah dan segala bentuk kejelekan tidak akan dapat diatasi kecuali dengan menjalankan misi para Nabi yaitu berdakwah dan menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar melalui proses ta’lim yang melahirkan tazkiyah, kemudian mengamalkan ilmu yang benar dalam proses tarbiyah.  Dengan tazkiyah dan tarbiah inilah umat akan selamat dari berbagai gelombang fitnah.

Allah berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
“Dan takutlah fitnah (bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim diantara kalian saja secara khusus”. (QS.Al-Anfal:25)
Dalam sahih Bukahri:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ حَدَّثَتْهُ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُنَّ إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Urwah meriwayatkan dari Zainab binti Abi Salamah, bahwa Ummu Habibah binti Abu Sufyan meriwaytkan dari Zainab binti Jahsy bahwa Rasulullah-shalllallahu ‘alaihi wa salam masuk kedalam rumahnya dalam keadaan ketakutan sambil berkata: “Celakah bangsa Arab dengan kejelekan yang mendekat, telah terbuka dari benteng ya’juj dan ma’juj seperti ini -beliau mengisyratkan dengan jari ibu dan telunjuk yang dibulatkan- maka aku (Zainab) bertanya: ”apakah kami akan dibinasakan sementara masih ada orang-orang yang sholeh? Beliau menjawab: ya jika kejahatan merajalela. [HR.Bukhari]

Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman meriwayatkan bahwa ada seseorang yang berkata dihadapan Abu Hurairah: ”Sesungguhnya seorang yang zalim hanyalah membahayakan dirinya”. Maka Abu Hurairah menjawab: Demi Allah sesungguhnya orang yang zalim akan membahayakan segalanya hingga burung yang terbang diangkasa”. Allah berfirman : “Seandainya tidak ada dari umat-umat yang sebelum kalian orang-orang yang memiliki keutamaan (para ulama) yang melarang (umat) dari perbuatan kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil saja yang kami selamatkan dari mereka, adapun orang-orang yang zalim maka mereka mengikuti segala kemewahan dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan sesungguhnya Rabmu tidak akan membinasakan suatu negeri selama penduduknya senantiasa memperbaiki.” (QS. Huud: 116-117)
Kata-kata “muslihun” yang maknanya adalah orang-orang yang memperbaiki, menunjukkan bahwa bumi ini hanya akan selamat selama adanya para dai yang memperbaiki masyarakat dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.
Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda:

بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ
‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.” (Kemudian, Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang selain Utbah menambahkan riwayat ini dengan redaksi: ‘Apakah yang 50 kali itu dari generasi kami kami atau generasi mereka?’ Rasulullah saw, ‘Untuk mereka’.”) [HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]

Kelima: Istiqomah di atas Sunnah
Datang seseorang kepada Imam Malik bertanya bahwa dia ingin berihram dari rumahnya yang dekat dengan miqat, maka Imam Malik melarangnya. Dia bertanya: wahai Imam bukankah hanyalah beberap meter saja jaraknya dari Miqat? Imam Malik menjawab: Aku Khawatir kamu terkena fitnah. Dia bertanya fitnah apa wahai Imam? Imam Malik membacakan padanya firman Allah:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Hendaklah khawatir orang-orang yang menyelisihi perintahnya (Nabi) kelak mereka akan ditimpa fitnah ataupun azab yang pedih. (QS: An-Nur: 63)

Berkata Imam Az-Zuhri:

السنة سفينة نوح من ركبها نجا
“Sunnah itu bagaikan bahtera Nuh, barang siapa yang menaikinya dia akan selamat”
Allah berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama engkau ada pada mereka, dan Allah tidak akan mengazab mereka sementara mereka senantiasa beristigfar.” (QS: Al-Anfal:33)

Maksud kata-kata “selama engkau ada pada mereka” yaitu selama sunnah beliau ada ditengah kaum muslimin dan diamalkan oleh umatnya. Maka selama sunnah ditegakkan dan ummat ini senantiasa beristighfar, niscaya akan terhindar daripada fitnah yang membinasakan.

Keenam: Memperbanyak amal ibadah
Diantara sikap yang dapat menyelamtkan seorang muslim dari fitnah adalah memperbanyak amal sholeh. Sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا.رواه مسلم
“Bersegeralah beramal sebelum munculnya fitnah yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap, seseorang dipagi harinya beriman dan disorenya telah menjadi kafir, atau sorenya masih beriman dan pagi harinya telah menjadi kafir, menjual agamanya dengan gemerlap dunia”. [HR.Muslim]

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: استيقظ رسول الله ليلة فزعاً يقول:سبحان الله ماذا أنزل الله من الخزائن وماذا أنزل من الفتن ؟ من يوقظ صواحب الحجرات لكي يصلين فرب كاسية في الدنيا عارية في الآخرة “. رواه البخاري
Dari Ummu Salamah-radhiallahu ‘anha, dia berkata: ”terjaga Rasulullah saw pada suatu malam dalam keadaan terkejut sembari berkata:”apa yang telah diturunkan Allah dari perbendaharaan dunia, dan apa pula dia yang telah turunkan berupa fitnah-fitnah? “Siapa yang akan membangunkan para penghuni rumah (keluarga) agar mereka sholat malam, berapa banyak orang yang berpakaian di dunia tetapi telanjang pada hari kiamat. [HR.Bukhari]
Ketujuh: Menjauhkan Diri dari Fitnah dan Kemaksiatan
Dalam kondisi fitnah akhir zaman yang memakan korban dan menumpahkan darah , maka hendaklah seseorang menjauhi fitnah, sebabagaimana yang dilakukan oleh sebagian sahabat seperti ibnu Umar dan lain-lainnya. Tatkala Dajjal keluar, Nabi mengajarkan umatnya agar beruzlah menjauh dari fitnah, beliau bersabda:

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ.
“Akan terjadi berbagai fitnah, maka seorang yang duduk dalam perkara itu (tidak ikut) lebih baik dari orang yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan menyongsongnya, dan yang berjalan masih lebih baik dari yang berlari padanya, barang siapa yang larut padanya akan terjebak, maka barang siapa yang dapat menghindar melarikan diri darinya hendaklah dia lakukan.” [HR.Bukhari]

Dalam riwayat muslim dengan tambahan:

ألَا فَإِذَا نَزَلَتْ أَوْ وَقَعَتْ فَمَنْ كَانَ لَهُ إِبِلٌ فَلْيَلْحَقْ بِإِبِلِهِ وَمَنْ كَانَتْ لَهُ غَنَمٌ فَلْيَلْحَقْ بِغَنَمِهِ وَمَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَلْحَقْ بِأَرْضِهِ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبِلٌ وَلَا غَنَمٌ وَلَا أَرْضٌ قَالَ يَعْمِدُ إِلَى سَيْفِهِ فَيَدُقُّ عَلَى حَدِّهِ بِحَجَرٍ ثُمَّ لِيَنْجُ إِنْ اسْتَطَاعَ.
“Ketahuilah jika fitnah telah datang maka yang memiliki unta hendaklah membawa untanya menjauh, dan barang siapa yang memiliki kambing-kambing hendaklah menjauh dengan kambing-kambingnya, yang memiliki tanah hendakah mendatanginya. Maka bertanya seorang laki-laki: Wahai Rasulullah, bagaimana sekiranya dia tidak memiliki, kambing ataupun tanah? Rasulullah menjawab: hendaklah dia mendatangi pedangnya dan memukulkan matanya kebatu hingga tumpul kemudian berusaha menyelamatkan diri”. [HR. Muslim]


Kedelapan: Menjauh Dari Orang yang menyeru kepada keburukan (Da’I Suu’)
Da’i Suu’ adalah para penjaja kesesatan, yang menggiring manusia kepada neraka dengan kendaraan hawa nafsu dan syahawat. Bagaikan para penjaja barang dagangan, mereka tidak pernah jemu menawarkan bid’ah dan khurafat yang dikemas dengan berbagai bungkusan-bungkusan menarik yang menipu.

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ فِتَنٌ عَلَى أَبْوَابِهَا دُعَاةٌ إِلَى النَّارِ فَأَنْ تَمُوتَ وَأَنْتَ عَاضٌّ عَلَى جِذْلِ شَجَرَةٍ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَتْبَعَ أَحَدًا مِنْهُم.رواه ابن ماجه.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman dia berkata: bersabda Rasulullah:akan muncul fitnah dan di atas pintu-pintunya ada para penyeru yang mengajak manusia ke neraka, jika engkau mati dalam keadaan menggigit batang pohon, akan lebih baik bagimu daripada mengikuti salah seorang dari mereka. [HR. Ibnu Majah]
Kesembilan: Mendekat kepada Para Ulama
Ulama adalah lentera-lentera tatkala manusia dalam kegelapan kejahilan dan syubuhat. Barang siapa yang mengambil pelita ini niscaya akan dapat menerangi dirinya dalam menempuh perjalanan menuju negeri akhirat. Sebaliknya yang menjauh dari mereka bagikan si buta yang berjalan terseok-seok dalam kegelapan malam tanpa pemandu, di jalan yang terjal dan berbatu, di kiri dan kanan ada jurang yang dalam siap menunggu, sementara jalan penuh dengan para penyamun dan binatang buas yang siap menerkam dan merobek-robek dirinya. Dari Bisyr bin Amru, dia berkata:

شيَّعنا ابن مسعود حين خرج، فنزل في طريق القادسية فدخل بستاناً فقضى حاجته ثم تؤضأ ومسح على جوربيه ثم خرج وإن لحيته ليقطر منها الماء فقلنا له: اعهد إلينا فإن الناس قد وقعوا في الفتن ولا ندري هل نلقاك أم لا، قال: اتقوا الله وأصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر وعليكم بالجماعة فإن الله لا يجمع أمة محمد على ضلالة.
Kami mengikuti Ibnu Mas’ud tatkala dia keluar menuju Qadisiyah, kemudian ia masuk ke kebun menunaikan hajatnya, ia berwhudu dan mengusap di atas kaos kakinya, kemudian ia keluar sementara tetesan air wudhu membasahi janggutnya. Kami berkata: berikanlah pada kami wasiat, sebab manusia telah terjebak dalam fitnah dan kami tidak tahu apakah bisa bertemu kembali denganmu atau tidak. Beliau berkata: bertakwalah pada Allah dan bersabarlah hingga orang-orang yang baik akan beristirahat (wafat) dari orang jahat atau manusia di istirahatkan dari mereka (dengan mematikan orang yang fasiq), dan hendaklah kalian mengkuti jama’ah sebab Allah tidak akan mengumpulkan ummat Muhammad di atas kesesatan.
Ibnu Al-Qayyim menyebutkan: “Jika kami dalam kondisi takut yang sangat mencemaskan, dengan berbagai prasangka buruk dan dunia menjadi sempit, kami segera mendatangi beliau (IbnuTaimiyah, baca: ulama) baru saja melihatnya dan mendengarkan perkataannya, seketika hilanglah segala beban dan derita yang kami rasakan”.
Kesepuluh: Tidak Panik dan Tergesa-Gesa dalam Menghadapi Fitnah
Fitnah yang datang terkadang bagaikan gelombang Tsunami yang menggulung, memporak-porandakan manusia, membuat mereka lari terbirit-birit dalam kebingungan dan kalang kabut. Terkadang disebabkan kepanikan dan kekalutan tidak sedikit yang tewas. Niat hati ingin selamat, ternyata malah menjemput ajalnya disebabkan kalap. Bagaikan orang yang terhanyutkan oleh arus akan berupaya menarik segala yang dapat dijadikan pegangan walaupun rerumputan ataupun sampah. Orang yang bijak akan senantiasa berfikir jenih dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan tatkala fitnah melanda. Rasulullah saw memberikan pujian kepada sahabat Al-Asyaj bin Alqais:

” إن فيك خصلتين يحبهما الله، الحلم والأناة “.
“Ada dua perkara yangdicintai Allah terdapat dalam, yaitu sifat lembut dan tenang.” (HR. Muslim)

Kesebelas: Yakin dengan Pertolongan Allah
Segala ujian datangya daripada Allah untuk menguji iman dan ketangguhan hati kita. Dengan ujian derajat keimanan akan naik, ketundukan pada Allah semangkin kuat, dan harap akan pertolongan-Nya semangkin menentramkan hati. Seorang mukmin sejati yakin Allah pasti akan menolongnya, dan Allah tidak akan pernah mengingkari janji. Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا اْسَتيأسَ الرسل وظنوا أنهم قد كذبوا جاءهم نصرنا فنجى من نشاء
"Tatkala para Rasul merasa berputus asa dan mereka menganggap mereka di dustakan, maka datanglah pertolongan kami maka akan kami selamatkan siapa-siapa yang kami kehendaki." (QS. Yusuf: 110)

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa tatkala Khabbab mendatangi Nabi yang sedang bersandar di bawah naungan ka’bah, mengadukan perihal penderitaan yang mereka alami dari kaum musyrikin, maka Khabbab berkata: ”Wahai Rasulullah mengapa anda tidak segera mendoakan kemenangan untuk kami? Maka Rasulullah duduk dan wajahnya memerah, sembari berkata:

لقد كان من قبلكم ليمشط بأمشاط الحديد ما دون عظمه من لحم أو عصب ما يصرفه ذلك عن دينه ويوضع المنشار على مفرق رأسه فيشق باثنين ما يصرفه ذلك عن دينه، وليتمن الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت ما يخاف إلا الله والذئب على غنمه
“Sungguh orang sebelum kalian ada yang digaruk dengan sisir yang terbuat dari besi yang memisahkan dia dari kulit dan tulangnya, namun hal demikian tidak memalingkannya dari agama, ada juga yang digergaji dari atas kepala hingga terbelah menjadi dua bagian namun hal itu tidak juga dapat merubah keyakinan mereka, pasti Allah akan sempurnakan agamanya ini hingga kelak para kafilah berjalan dari Shon’a ke Hadramaut tidak takut pada apapun kecuali pada Allah dan tidak perlu takut srigala yang akan memangsa kambing-kambingnya. Tetapi kalian terlalu tergesa-gesa.” [HR. Bukhari]

Kedua belas: Berfikir Visioner
Segala tindak-tanduk, sikap dan kebijakan harus benar-benar dipikirkan dipertimbangkan agar tidak berdampak memunculkan fitnah yang lebih besar lagi. Terkadang sesorang diharuskan untuk menyimpan informasi sekalipun benar, khawatir dengan memunculkannya muncul kerusakan yang parah.
Dalam konsep Islam kemungkaran tidak boleh di ingkari jika memunculkan dampak mungkar yang lebih besar. Itulah yang ditempuh oleh para ulama dan para sahabat.

Berkata Abu Hurairah:

حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم وعائين ، أما أحدهما: فبثثته ، وأما الآخر: فلو بثثته لقطع هذا الحلقوم
Aku menghafalakan dari Rasulullah-shallallahu-‘alaihi wa sallam- dua kantong ilmu, adapun satu kantong kusebarkan (kepada manusia) adapun kantong lainnya, seandainya aku sebarkan niscaya akan terpotonglah urat leher ini”.

Berkata ulama: Abu Hurairah sengaja menyimpan sebagian hadis agar tidak muncul fitnah (karena salah memahaminya).

Ketiga belas:  Bersabar
Sabar adalah modal yang wajib ada dimiliki setiap keluarga muslim ketika berhadapan dengan segala fitnah. Berkata An-Nu’man bin Basyir:

“إنه لم يبق من الدنيا إلا بلاء وفتن فأعدوا للبلاء صبراً ”
“Sesungguhnya tidaklah bersisa di dunia ini kecuali bencana dan fitnah-fitnah, maka siapkanlah untuk menghadapinya dengan bermodalkan sabar”.

Pesan kesabaran inilah yang disampaikan Rasulullah saw ketika keluarga muslim menghadapi fitnah yang akan datang di penghujung zaman ini, sebagaimana beliau berkata kepada sahabatnya Abu Dzar ra: Rasulullah SAW bersabda,” Wahai Abu Dzar, bagaimana kamu jika berada dalam kekacauan (fitnah)?” Lalu beliau SAW menyilangkan  jari jarinya. Abu Dzar berkata, “ Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku, ya Rasulullah?” beliau menjawab,”Bersabarlah ! bersabarlah ! manusia akan berpura pura dengan akhlak dan perbuatan mereka.” (HR Hakim dan Baihaqi)
Rasulullah saw  juga bersabda:
إن من ورائكم أيام الصبر، الصابر فيهن كالقابض على الجمر، للعامل فيها أجر خمسين، قالوا: يا رسول الله أجر خمسين منهم أو خمسين منّا ؟ قال: خمسين منكم
“Sesungguhnya dibelakang kalian akan datang hari-hari yang penuh dengan ujian kesabaran, orang yang dapat bersabar dimasa itu bagaikan seseorang yang memegang bara api, bagi orang yang beramal si saat itu mendapatkan ganjaran lima puluh kali, mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah ganjaran limapuluh kali dari orang-orang sepeti mereka atau limapuluh kali ganjaran orang-orang seperti kami (para sahabat)? Nabi menjawab: limapuluh kali dari kalian.”

Sabar artinya, tidak lemah, tidak menyerah, tidak patah semangat untuk tsabat di jalan Allah dan Rasul-Nya.

Keempat belas:
Tabayyun dalam Menerima Berita
Dalam zaman fitnah, akan berkembang segala bentuk isu maupun provokasi, maka wajib bagi setiap keluarga muslim untuk teliti menerima berita, dengan mengecek kebenarannya, melihat dari mana sumbernya, dan tidak tergesa-gesa menyebarluaskannya sekalipun benar adanya jika dikhwatirkan akan menjadi fitnah.
Allah memerintahkan kita untuk mengecek berita jika datang dari orang yang tidak jelas, apalagi fasiq agar tidak muncul penyesalan dibelakang hari, dalam firmannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS: Alhujurat: 6)

Penutup
Inilah kiat-kiat yang dapat dijadikan pegangan oleh keluarga mukmin dalam menghadapi fitnah (termasuk fitnah akhir zaman) apapun bentuknya. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bishawwab

Minggu, 15 April 2018

Materi 2 HSR : kewajiban orangtua

*BC Materi 02. 10 Feb 18*

Assalamualaikum Shaleh dan Shalehah, 😊🙏
Supri dan Karin mohon maaf atas keterlambatan karena memang keterbatasan kapasitas, kami sudah berusaha cicil dari hari Kamis kmrn.

InsyaAllah di bawah ini adalah

Materi: Tanggung Jawab dan Kewajiban Orangtua

Narasumber: Ust. Jalaludin Asy-Syatibi, Salah satu pembina IKADI Jawa Barat, Narasumber reguler MQ FM dan MQ TV.

Olah Bahasa: Supriatna, Karina Hakman

*Pesan dari Moderator:*

😌😌😌

Bacalah dengan penuh penghayatan.. bagi kami yang mendengar secara langsung, semakin dalam pembahasan materi, semakin *terisak* dan *lapang dada* terasa..

Terisak karena betapa besar kekuasaan dan keindahan ilmu Allah...
lapang karena bersyukur diberi kesemoatan untuk mengetahui dan berusaha mengamalkan..

Semoga ilmu yang disampaikan Ust Jalal pun akan memberikan keberkahan dan manfaat bagi Sahabat sekalian.. Selamat belajar... 😊👇


*II. Muaqqotan (Sementara/Sesuai keperluan)*

(Siap2 lebih khusyuk 😌)

1. *Menyambut Gembira*

Tanggung Jawab dan Kewajiban orangtua untuk menyambut gembira setiap anak yang lahir, apakah dia laki2 dan perempuan, apapun warna kulit, dsb (dikaitkan lagi dengan hakikat anak sebagai *busyra* yakni kabar gembira).

Termasuk dalam situasi2 semasa hidupnya, dalam prestasinya, amal2 kebaikannya, dsb.Tolak ukur kebaikan adalah yang sesuai dengan kebaikan dalam Islam.

Co Ust Jalal:
Bagi Abi nilai kebaikan terpenting dalam proses belajar adalah *anak berusaha belajar*.. hasil mah urusan Allah... anak2 tidak harus rangking.. alhamdulillah sekarang semuanya dalam keadaan baik2, semuanya penghafal Al Quran (cat: anak beliau ada 7), maka kita menyambut gembira *prestasi/usahanya untuk belajar*...

*2. At Tamrin 'Alal 'Amali*

Sejak kecil anak2 dilatih untuk beramal baik.. bertahap sesuai berkembangannya...

di usia sekian, anak belaajr makan sendiri...

di usia sekian, mulai belajar meletakkan piring makan selesai makan..

di usia sekian, mulai belajar mengambil nasi dan makanan sendiri...

di usia sekian mulai membantu mencuci piring2 makan..

di usia sekian, mulai mendapat penugasan di rumah..
dst

Intinya.. anak2 diberikan latihan agar tumbuh menjadi insan *mandiri* dan *punya kemampuan beramal* di usia yang seharusnya..

*3. At - Taujihu*
Taujih bermaksud arahan, tanggung jawab dan kewajiban orang tua utk mengarahkan anak2nya *di saat2 dibutuhkan,*
*dengan metode* yang sesuai dengan tabiat dan watak anak,
taujih tidak terus menerus setiap waktu.. harus pandai2 memilah situasi..

Co Ust Jalal:
Syauqi anak Abi dulu ingin masuk seni rupa.. banyak rekan2 terkejut, anak Ust ingin mengambil jurusan seni rupa.. lalu Abi tanya, kenapa mau ambil seni rupa?

Jawabannya ingin mengubah TV menjadi konten islam dan dakwah...

Lalu suatu hari Syauqi berhenti dari pekerjaannya di salah satu stasiun tv, Abi tanya *kenapa berhenti?*

Syauqi nenjawab.. *karena lihat Abi istighfar terus* kalau lihat film2 itu... 😌😌

Jadi, mengarahkan bisa dengan cara tidak langsung.. Menyesuaikan dengan kondisi anak, kalau cukup dengan begitu maka alhamdulillah cukup...


*4. Menikahkan*
Orangtua wajib menikahkan anaknya *ketika anak meminta*...

Pernikahan adalah penjagaan. Rasa *keinginan menikah* yang ditunda lebih kuat dibandingkan rasa lapar orang terhadap makanan...

*Kesalahan* yang banyak terjadi, anak2 sulit menikah karena harus begini begitu dulu.. harus kerja dulu.. dst...

Bahkan kalau seorang laki2 belum punya pekerjaan tapi ingin menikah, maka orangtua bertanggung jawab menanggung kebutuhan pernikahan dan keluarga anaknya..

Kenapa?

Karena ketika anaknya belum dapat mandiri di usia yang seharusnya,
adalah *tanggung jawab orangtua* : *KENAPA* anaknya belum bisa mandiei di usia sekian? Apa yang telah dia lakukan selama mendidik anaknya sehingga anaknya seperti itu?

Co Ust Jalal:
Saya dulu menikah ketika masih di pesantren. Ayah saya yang menikahkan, dan istri Ust Jalal tinggal dan ditanggung oleh Ayah Ust Jalal sampai Ust Jalal selesai sekolah dan bekerja..

*5. Infaq*
Memberikan infaq yang cukup dan layak bagi anak2, sesuai dengan usia..

dan kalau anak memerlukan sesuatu, ia memiliki hak atas harta yg dipegang orangtua . Orangtua tidak boleh pelit terhadap *kebutuhan yang memang hak anak* seperti makanan, pendidikannya, dst...


Co Ust Jalal:
Saya biasa mengunjungi anak saya yang bungsu di pesantren minimal sebulan sekali kadang lebih sering.
setiap saya datang, *saya selalu tanyakan*: apakah kebutuhannya tercukupi, ada hutang atau tidak, ada keperluan tambahan atau tidak?
"tidak Bi.." jawab anak Ust Jalal... alhamdulillah tercukupi...

(catatan moderator: jumlah yang rekan2 anak Ust Jalal kirimkan mungkin byk yg lebih banyak.. bahkan seorang Kiyai yang mengetahui hal itu cukup terkejut...  tp anak Ust Jalal alhamdulillah selalu cukup... Hal ini menjadi pembelajatan tersendiri buat kita, bagaimana agar mendidik anak yang mampu qanaah, pintar nengatur keuangan dan kebutuhan pribadi)

*III. Abadiyah (Selamanya)*

Sebagai orangtua, kita memiliki kewajiban yang akan terus berjalan hingga akhir hayat..

Ada banyak, tapu setidaknya minimal ada 5 poin:

*1. Membentengi Anak dari setan*

Makna setan adalah menjauhkan dari kebaikan dan mendekatkan dengan kejahatan.

*Sejak kapan membentengi anak dai setan?*

*Sejak sebelum punya anak*

Maknanya, sejak proses "ikhtiar" memiliki anak...

Dalam ibadah suami istri, terdaoat adab2 yang menjauhkan dari setan, salah satunya doa sebelum berhubungan

".. Allahumma Janibna Bis Syaithan.. wa janibisy Syaithani Maa Razaqtnaa.."

"Ya Allah jauhkan kami (dalam aktivitas ini) dari setan.. dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezekikan atas kami..."

Hal2 seperti ini sederhana tapi bermakna dan penting untuk melindungi anak2 dari setan...

Proses adzan dan iqamah pun adalah bagian menjauhkan dari syaithan ...

Termasuk juga, menjauhkannya dari setan manusia (lihat QS. Al-An'am: 112) ...
Setan manusia bisa lebih berbahaya dari setan golongan jin..

Setan golongan jin dapat diusir dengan doa...
tapi setan manusia harus dijauhkan, singkirkan, dengan sikap...

*Tugas ini* akan terus berlangsung meskipun anak sudah besar, menikah dsb..

*2. At-Tarbiyah wa Ta'lim*

QS. Luqman: 13 - 19.

Hal ini mencakup dua hal:
*Tarbiyah* : mencakup hati (ruhiyah)
*Ta'lim*: mencakup fikriyah (akal)

Dakwah yang paling utama adalah kepada keluarga. Dan dakwah kepada anak tidak berhenti meski anak telah menikah.

Co Ust Jalal:
Sekarang anak2 Ust Jalal telah bertebaran di mana2.. ada juga yang tinggal di Australia.. sehingga terbatas dengan jarak.. Ust Jalal tetap melakukan sebisanya, dengan mengirimkan hadist setiap hari melalui grup WA beliau dan anak2nya..

*Apa saja yang termasuk dalam bab Tarbiyah wa Ta'lim?*

Ada banyak, setidaknya ada 7 ini:
1. Imaniyah
Termasuk di dalamnya bab2 terkait Sifat orang beriman, jalan menuju iman, tanda orang beriman dst (perlu satu pertemuan sendiri utk menjelaskan masing2 aspek)

2. Khuluqiyah (Akhlak)
a. Syakhsiyah (kepribadian)
Anak2 harus dididik.utk memiliki kepribadian yang:
- Ikhlas
- Syukur
- Sabar
- Qanaah
- Tawakkal
- Tsabat (teguh)
- Tawadhu
- Hilm (penyayang)
- dsb

b. Hak dan Kewajiban
- kepada ortu
-  suami dan istri
- kepada anak
- kepada guru
- kepada murid
- kepada tetangga
- kepada sesama muslin
- kepada org kafir
- kepada makhluk lain
- dst

3. Aqliyah (Akal)
4. Ijtima'iyah (Etika Sosial Kemasyrakatan)
sebagian contoh saja:
- adab makan minum
- adab bepergian
- adab bersahabat
- adab bermajelis
- adab buang hajat
- adab tidur
- adab bertamu
- adab bercanda
- dst

5. Nafsiyah (fisik)
6. Ruhiyah (hati)
7. Jinsiyah (seksual)

*(cat:* Karena waktu sudah mau habis, Ust Jalal tidak sempat menjelaskan secara terperinci setiap aspek tersebut)

*Kapan mulai mempraktekkan Tarbiyah wa Ta'lim*?
Intinya, sebelum wajib, tidak boleh dipaksa..Tapi metode pendidikannya bisa disesuaikan dengan anak.. apakah melalui pembiasaan atau yg lainnya..bisa dicek di buku Tarbiyatul Aulad dari Syaikh Abdullah Nasih 'Ulwan..

Co Ust:
Abi tidak memaksakan anak2 perwmouan yg belum baligh utk berjilbab.. Nati, dari keinginan pribadi mau pakai jilbab kelas 1 SD, padahal teman kelasnya tidak ada yg pakai jilbab zaman itu...
Lana, mau pakai jilbab sendiri kelas 5 SD... tidak terlambat juga..

(Catatan moderator, Teh Lana anak Ust Jalal adalah salah satu Ustadzah Musyrifah senior di Pondok Quran)

Contoh lain:
Berkaitan dengan Shalat.. sudah jelas bahwa anak diperintahkan shalat usia 7 tahun.. artinya, sebelum usia tersebut orabgtua sudah harus menpersiapkan segala sesuatunya:
- harus benar bacaannya
- sudah bisa membaca Al Quran
- mengerti ttg menutup aurat
- mengeti suci (bagi laki2 sudah khitan)
- dsb intinya mempersiapkan anak utk dapat shalat dengan benar di usia 7 thn...

*3. Rahmah*
Orangtua harus menyayangi anaknya.. termasuk anak yang nakal...
Kalau ada rasa benci kepada seorang anak karena kenakalannya, ubah cara pandang dengan Rahmah.. "kasihan anakku, bagaimana cara mencari solusinya"

Dalam beberapa kasus, byk pelaku prostitusi yang mengaku bahwa ia tidak lagi memiliki tempat kembali kepada orangtuanya.. karwna ketika ia ingin berubah, orangtuanya sudah tidak mau meberimanya lagi, jadi ia semakin tersudut dan memilih kembali lagi...

*Perhatikan Kaidah Ushul Fiqihnya:*

_Tutuplah rapat2 celah berbuat nakal,_
_tapi kalau sudah terjadi(kemaksiatan)_ _*rangkullah ia* agar ia punya tempat kembali dan ingin kembali ke jalan yang benar_

*4. Al Inayah*
Bermakna mengayomi.

Salah satu sikap mengayomi adalah menunjukkan sikap *siap* membantu *tanpa pamrih*..

Perlu diingat baik2.. orangtua jangan pernah mengharap pamrih anak2... (amalan harus ikhlas karena Allah)...

Banyak orangtua mengharap kepada anaknya yg telah bekerja dsb...

Co Ust Jalal:
"Abi tidak pernah sekalipun bertanya kepada anak2 Abi seorang pun berapa penghasilan mereka, bahkan termasuk yg skrg di Australia"

"Abi menjaga jaga (baca: wara) jangan sampai terbersit perasaan tidak enak pada anak2"

"tapi alhamdulillah.. Abi tidak pernah minta, anak2 yang skrg mengurua segala macam.keperluan termasuk sekolah adiknya yang paling bungsu"

Allah menyampaikan perkara ini secara umum di QS. Thaha: 131...

Ikhlaskan saja mendidik anak, mengayomi dan membantu anak, tanpa.mengharap pamrih darinya...

*5. Adil*
Orangtua wajib berbuat adil.

Mengambil pemaknaan adil dalam masalah poligami (QS. 4: 3), maka adil dalam hal ini adalah *adil terhadap hal yang zhahir*... sementara di dalam hati, mungkin saja akan muncul kecenderungan di dalam hati lebih sayang kepada salah satu (QS. 4: 129)... tidak mengapa, asal jangan ditunjukkan perasaan tersebut dlm perbuatan...

*Apa contoh dari hasil keadilan Rasulullah SAW*?

Dalam salah satu kasus, bagaimana Rasulullah sangat berlaku adil pada para Sahabat2nya.. semua yang berada di dekat Rasulullah SAW selalu merasa dialah yang paling istimewa...

- Abu Bakar Ash-Shidq merasa di anakemaskan karena ia adlaah Sahabat,  mertua, dan peneman Rasulullah SAW dalam hijrah...

- Umar Ibnu Khattab, merasa dianak emaskan karena ia adalah Sahabat, yang didoakan oelh Rasulullah sebelum masuk Islam, dan mertua Rasulullah SAW

- Utsman oun meeasa dianak emaskan, karwna selain Sahabat, beliau menikahi 2 putri Rasulullah SAW (catatan moderator: tidak sekaligus, setelah yang istri pertama wafat, Utsman menikah lagi dengan putri Rasulullah SAW)

Begitulah Rasulullah SAW bersikap adil dan mengistimewakan semua pihak..

Bagaimana dengan kita?
Jangan2 semua merasa dianaktirikan? (Ust Jalal sambil tertawa kecil)

Allahualam Bishawab.
Sangat mungkin banyak kekurangan, jika ada kesalahan mohon hubungi secara langsung untuk dikoreksi (dalam konteks ini bisa menghubungi admin).

*Materi 02. 10 Feb 18*

*Muqoddimah (Pendahuluan)*
Sebelum diskusi lebih lanjut, orangtua harus memahami terlebih dahulu hakikat anak.

*1. _ziinah_, keindahan)*
QS. Ali Imran: 14
Hakikatnya setiap anak itu indah.

Di dalam ayat tersebut (QS. Ali Imran: 14), Allah menggunakan kata *_baniin_*, yang bermakna *anak kandung*. Bukan *_aulaad_*, yang berarti anak.

Maknanya, secara fitrah, anak kandung akan memiliki keindahan.

Kalaulah ada yg cacat secara fisik, ia pasti memiliki keindahan di sisi yang lain.
co: ada anak yang ia buta, namun ternyata ia dapat menghafalkan Al Quran, menghajikan orangtua beserta dengan pengasuhnya.

*2. _busyra_ (berita gembira)*
(QS. 37: 101)
Hakikatnya anak itu adalah berita gembira.
Keseluruhan kondisi anak kita lihat dari sisi yang lainnya.

Misal, jika memiliki anak tapi merasa sedih,

Kita *harus bertanya* pada diri sendiri

*"Ada apa dengan saya?"*

bukan sebaliknya malah bertanya

*Ada apa dengan anak saya?*

karena secara fitrah kehadiran seorang anak harusnya menjadi *kabar gembira*, bagaimanapun kondisinya.

(suasana kemudian makin riweuh karena anak2 kami udah gak malu2 lagi, dan saya sempat mengingatkan anak2 beberapa kali 😅, lalu Ust Jalal menasehati saya:.... )

Teh Karin, skrg Teh Karin mau belajar, tapi anak2 semakin aktif.. *jangan ada rasa keuheul (arti: kesel)*..anak adalah busyra ..  berita gembira...

*3 dan 4. Musuh dan Sahabat*
ayat yang sama seperti kmrn (QS. At-Taghabun: 14)

*5. Fitnah*
QS. At Taghabun: 15

Secara bahasa _fitnah_ bermakna bencana, godaan, dan bahan musyrik kepada Allah.

Jika tidak diilmui dengan benar, anak bisa menjadi bahan bencana, godaan dan musyrik kpd Allah.

salah satu unsur musyrik adalah mencintai sesuatu menyamai cinta kepada Allah, apalagi sampai melebihi Allah.

co:
Mencintai anak sampai meninggalkan perintah Allah.. Membiarkan anak memakai pakaian yg tidak patut karena sayang... Meninggalkan kewajiban karena anak... dst...

Padahal, *orang2 beriman amat besar kecintaan kepada Allah*... (lihat QS. 2 : 165)

*6. Amanah*
Sama seperti kmrn, anak adalah amanah dari Allah salah satu dasar utamanya berdasar pada QS. At Tahrim: 6...

*Karena anak adalah amanah...*

*Maka orangtua harus mengetahui tanggung jawab dan kewajibannya*...yang itulah menjadi pokok bahasan kita saat ini 😊👇

*Tanggung Jawab dan Kewajiban Orangtua*

Untuk mempermudah klasifikasi, materi tanggung Jawab dan Kewajiban Orangtua  dibagi menjadi 3 bagian:

1. Thiflan
Tanggung Jawab Kewajiban di masa Balita (0 - 5 tahun).

2. Muaqqotan (Sementara)
Tanggung Jawab Kewajiban yang sifatnya sesuai dengan keperluan dan masanya

3. 'Abadiyyan (Selamanya)
Tanggung Jawab dan Kewajiban *sejak sebelum lahir* sampai *kita wafat*.

InsyaAllah akan kita bahas
satu-satu...
perlahan lahan...
semoga bisa dipahami dan dimaknai dengan baik ya... 😊👌

*I. Thiflan*
Amalan khusus masa lahir hingga 5 tahun setidaknya ada 7...

*1. Adzan dan Iqamah*
Pelaksanaan adzan dan iqamah mengandung makna yang substansi.

Hadist yang sering digunakan terkait adzan dan iqamah pasca kelahiran bayi sebetulnya hadits dhaif. Lalu, kenapa tetap dilaksanakan?

Syaikh Abdullah Nasih 'Ulwan (Penulis Buku Tarbiyatul Aulad yang masih digunakan sebagai sumber berbagai kajian hingga saat ini), mengambil dasar pentingnya Adzan dan Iqamah diambil dari

*QS. Luqman: 31*

*Jangan menyekutukan Allah!*
Ayat tersebut menggunakan kata *Laa* (Jangan) dalam bentuk kata perintah... Perintah kepada siapa? Konteks Ayat tersebut ditujukan kepada anaknya...

Lalu, bagaimana dengan bayi yang baru lahir dan fitrah?
Adzan dan Iqamah menurut Syaikh Abdullah merangkum segala perkara ketauhidan kepada Allah. Ketika di adzankan dan diberi Iqamah, kalimat pertama yang didengar oleh dan disampaikan kepada anak adalah *kalimat tauhid*.

*2. _Tasmiyah_ Memberi nama yang baik*

Rasulullah menasehati.. "Beri namalah anakmu dengan namaku (Muhammad),
atau yang mengandung *makna Muhammad*,
atau tidak bertentangan dengan pesan Muhammad.."

Sebagian ulama menjelaskan bahwa dalam kata Muhammad, *setiap huruf ada maknanya*:

 (siap2 ya mempelajari unsur nama Rasulullah.. 😍😍 kami bergetar dengar penjelasannya)

*Mim* : Mahwul Kufri bil Islam, yang artinya memberantas kekufuran dengan keislaman.

*Ha* : Al hukmu bi ahkamillah... yang artinya menegakkan hukum Allah...

*Mim* kedua: Maghfirah minazh Zhulum dan Ma'rifah.. Sifat pengampun dan sifat ma'rifah.. Ma'rifah mencakup banyak hal, sebagian dari byk itu adalah Ma'rifatullah (Mengenal Allah),
Ma'rifatur Rasul (Mengenal Rasul), Ma'rifatul Islam,
Ma'rifatul Quran,
Ma'rifatul Insan,

*Dal*:
Ad-Da'watu ilallah..
Yakni, berdakwah mengajak ke jalan Allah...

*Nama anak* yang kita bweikan tidak boleh bertentangan dengan 4 makna tersebut...

*3. Tahnik*
Tahnik adalah menggores2 kurma (yang sudah dilembutkan) ke gusi bayi yang baru lahir *sebelum IMD/menyusui pertama*...

Diceritakan bahwa Rasulullah saat hari2 berhijrah mendapat kabar terkait kelahiran Abdullah bin Zubair. Rasulullah SAW meminta kurma, melumatkannya di mulut beliau, lalu dilekatkan ke gusi Abdullah bin Zubair..

(silahkan cek HR. Muslim)

Kita harus mencontoh Rasulullah SAW untuk mentahnik anak yg baru lahir sebelum menyusui.. *Sebelum* mentahnik,  disarankan bahwa yang mentahnik terlebih dahulu shalat atau memohon ampun memperbanyak istighfar, dan memohon kebaikan kepada Allah SWT supaya kebaikan dirinya turun kepada anaknya..
dan keburukannya tidak akan menurun kepada anaknya...

*4. Mencukur Rambut/ Al Halqu*
Terkait Al Halqu, mencukur rambut di hari ke-7, para ulama tidak berbeda pendapat.

Namun terdapat perbedaan pendapat terkait apakah rambut harus ditimbang dan menshadaqahkan emas seberat timbangan rambutnya.

*5. Khitan (bagi anak laki2)*
Sunnah dari Rasulullah SAW adalah mengkhitan di hari ke 7, sebagaimana Husein dan Hasan di khitan..

Bila sudah terlewat, silahkan disegerakan *paling lambat* sebelum usia 7 tahun. Karena anak2 diperintahkan shalat di usia 7 tahun. Tidaklah sah shalat yg dilaksanakan dalam keadaan tidak suci. Sementara laki2 yang belum di khitan, maka ia akan membawa kotoran pada dirinya.

*6. Aqiqah*
Bagi yang mampu menyegerakan adalah lebih baik, namun bagi yang belum mampu bisa mengusahakan di waktu semampunya.
Bagi laki2: min 2 kambing
Bagi pr: min 1 kambing

Boleh dilebihkan sesuai kemampuan.

*7. Menyusui*
(Sekalian menjawab byk pertanyaan ttg masa menyusui).

*QS. Al Ahqaf: 15*: Di dalam ayat ini, Allah mengajarkan bahwa masa mengandung sampai dengan menyapihnya adalah *30 bulan*.

Sementara itu di dalam *QS. Al Baqarah: 233* disebutkan masa menyusui adalah *2 tahun*...

Sebagian orang menyangka bahwa kedua ayat ini bertolak belakang, padahal kedua ayat ini saling melengkapi (Al Quran adalah kalam Allah Yang Maha Sempurna, tidak mungkin ada kebengkokan).

Bagaimana saling melengkapi?

Para ahli tafsir menjelaskan yang dimaksud 30 bulan menyusui dan menyapih ketika anak lahir di usia kandungan 6 bulan. Sehingga sisanya adalah 24 bulan menyusui.

Maka, jika seorang anak lahir setelah 9 bulan dalam kandungan, masa menyapihnya adalah di usia 21 bulan.

Bagaimana jika berlebih?
Haramkah? (Teh Karin langsung nanya)

Tidak haram, hanya saja hal tersebut melebihi dari apa yang Allah perintahkan..  kasihan dengan ibunya dan kasihan dengan ayahnya..



HSR : Hakikat Suami Istri

*Materi 01 HomeSchooling Rabbani*

📆 2 Feb 2018
🎙 Ust. Jalaludin Asy-Syatibi
🗒 Ditulis oleh Supri dan Karin

*Bismillāhirrahmānirrahīm*

Baik laki-laki maupun perempuan, baiknya mengetahui apa hakikat dirinya dalam pernikahan sesuai dengan Al-Quran. InsyaAllah akan ada 7 poin Hakikat dari Materi bersama Ust. Jalal. Dua poin disampaikan sekarnag, 5 poin lagi insyaAllah menyusul. Mohon untuk menyimak di waktu yang:
- Fokus
- Ibadah wajib telah tertunai
- Anak terkondisikan
- Tanggung Jawab utama dilaksanakan 🙏

*I. Hakikat Suami dan Istri yang Pertama*.

Secara hakikat, suami dan istri keduanya memiliki peran sebagai *pakaian* antara satu sama lain. Dari QS. Al Baqarah ayat 187, Allah menyebutkan yg artinya

_"...mereka (istri) adalah pakaian bagimu, dan kalian adalah pakaian bagi mereka.."_

Apa yang dimaksud Suami Istri sebagai pakaian?

Syaikh FahruRazi menjelaskan makna pakaian di dalam Al Quran menjadi setidaknya kepada 4 bagian.

1. Sebagai penutup aurat.
Dalam konteks suami istri,  *menutup aurat*, memiliki makna hakiki/zhahir dan juga makna ma'nawi.

a. Makna zhahir menutup aurat

-  Hendaknya suami dan istri menutup auratnya di hadapan yang bukan halalnya. Aurat suami adalah dari pusar hingga ke lutut. Aurat istri adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan (baik depan maupun punggung tangan).

- Proses *'ibadah suami istri'* adalah aurat yang harus ditutupi.
Rasulullah SAW melarang kita menceritakan apa yang terjadi kepada pihak lain.

Dalam hal ini, Allah memberikan panduan agar suami dan istri menjaga *3 waktu yang berperan sebagai aurat*. Tiga waktu ini adalah (1) Sebelum subuh (2) setelah dzuhur ketika menanggalkan pakaian (3) setelah shalat Isya' (lihat QS. An-Nur:58)

Pada 3 waktu tersebut, Allah memerintahkan agar para anak yang belum baligh, untuk meminta izin sebelum memasuki kamar orangtuanya. Jika anak yang belum baligh (belum akil) saja harus meminta izin, apa lagi yang sudah baligh.

Lalu bagaimana dengan anak yang masih kecil dan belum mengerti adab mendatangi orangtuanya?
Maka hal ini adalah isyarah bahwa anak yang telah selesai masa ASI nya, hendaknya memiliki kamar yang terpisah.

Sebegitu pentingkah?

Ya.. Suami dan istri adalah pakaian yang saling menutupi bahkan di hadapan anak usia dini. Jangan sampai mereka merasakan, melihat, dan mendengar apa-apa yang belum layak mereka rasakan, bahkan hingga hal sekecil desahan sekalipun.

Batas usia ideal anak untuk tetap satu kamar adalah hingga usia sapih. Usia sapih yang dimaksud adalah *30 bulan* dikurangi *masa kehamilan*.
Jika hamilnya 6 bulan, maka ASI setelah lahir adalah 24 bulan.
Jika hamilnya 9 bulan, maka usia sapih adalah 21 bulan.
Menyusui melebihi waktu tersebut tidak haram, hanya saja berarti istri dan suami memberikan lebih dari yang patut disempurnakan.


*b. Makna Maknawi Menutup Aurat* adalah menutup segala keburukan dan kejelekan masing-masing pasangan. Sebelum menikah, setiap dari kita memiliki lebih dan kurang.

Salah satu fungsi dari memiliki suami/istri, adalah memiliki 'pakaian' yang akan menjaga berbagai rahasia diri, kekurangan, dan keburukan diri masing2.

Maka, *seharusnya*, setelah menikah seseorang akan lebih terjaga *kehormatannya*. Apa yang menjadi kekurangannya terjaga , terminimalisir, bahkan seiring dengan waktu harapannya *akan hilang*.

Adalah *bertentangan* dengan hakikat suami dan istri, jika setelah menikah, *aib istri justru tersebar melalui suaminya dan aib suami justru tersebar melalui istrinya.* Dalam situasi demikian, berarti peran pakaian dalam pernikahan secara maknawi, *tidak berfungsi*.
*2. Menghangatkan*
Fungsi pakaian yang kedua adalah menghangatkan.

Rasulullah SAW beruzlah ke gua hira berhari-hari. Dalam satu masa, hingga 40 hari lamanya. Oleh orang mekkah, gunung tempat gua Hira disebut juga sebagai *Jabal Nur*, gunung cahaya, karena gunung inilah yang pertama kali menerima cahaya (letaknya paling tinggi). Letak gua hira pun adalah tempat yang berangin kencang. Maka ketika pulang setelah menerima wahyu pertama, Rasulullah SAW berada dalam *dingin yang bermakna dua hal*: dingin secara fisik, dan dingin secara psikis (stres).

Maka kehadiran Khadijah ra sebagai istri Rasulullah SAW, adalah membantu Rasulullah SAW menghilangkan rasa dinginnya.

Khadijah menyelimuti Rasulullah SAW dan menghangatkan hati Rasulullah dengan menghiburnya. Mengingatkan Rasulullah SAW terhadap kebaikan-kebaikan beliau dab mengajak beliau menemui paman Khadijah. Melalui paman Khadijahlah (Waraqah bin Naufal), Rasulullah SAW kemudian diyakinkan oleh pihak lain bahwa Rasulullah berada di jalan yang benar dan beliau tidak gila.

*3. Mendinginkan yang panas*
Fungsi ketiga dari pakaian adalah mendinginkan yang panas.

Dalam rumah tangga, ujian dan tantangan adalah hal yang sewajaenya terjadi. Masing-masing keluarga memiliki ujiannya masing-masing:
ada yang melalui anaknya, atau justru belum dikaruniakan anak..
ada yang ujiannya adalah ekonomi..
ada yang ujiannya adalah kondisi masyarakat sekitar.. dsb..

Di zaman mekkah, Rasulullah SAW diuji oleh tekanan politik yang keras. Hinggakan kondisi politik tersebut menyebabkan Rasulullah SAW dan oara Sahabat di boikot selama 3 tahun. Dalam kondisi seperti itu, Khadijah senantiasa hadir di sisi Rasulullah SAW untuk mendukung dakwah beliau tanpa keraguan.

Keseluruhan taat seorang Khadijah kepada Allah telah menjadikan beliau sebagai salah satu *wanita pemuka surga*. Tidak ada yang berhak menjadi pendampingnya kecuali *suami yang paling mulia pula* yakni Rasulullah SAW.

*4. Sebagai Perhiasan*
Fungsi ke empat dari pakaian adalah sebagai penghias.

Secara hakikat, seharusnya setelah menikah baik suami dan istri akan semakin indah.

Indah dalam arti zhahir maupun bathin.

Secara zhahir:
Setelah menikah, adalah pahala bagi suami dan istri untuk semakin memperindah diri di hadapan suami/istri masing-masing.

Fenomena yang banyak terjadi saat ini justru terkadang sebaliknya. Suami lebih memperhatikan penampilan ketika di kantor, dan tidak merawat diri di rumah. Istri justru banyak berdandan ketika keluar rumah, dengan parfum semerbak, sementara di hadapan suami justru sebaliknya.

Secara maknawi,
Ketika Allah telah menghadirkan suami/istri, seharusnya keindahan dalam diri kita akan jauh semakin dalam hingga ke hati dan perbuatan.

Keindahan secara zhahir sifatnya adalah *semu* yang akan terkikis oleh usia dan godaan dunia lainnya.
Namun, *keindahan yang bermula dari hatilah* yang akan semakin menyerbakkan aroma dan warna warni *sakinah, mawaddah, dan rahmah* dalam rumah tangga.

*II. Hakikat Ke-Dua suami dan Istri*

Jika dalam ayat sebelumnya suami dan istri memiliki peran sama yakni pakaian, di dalam QS. Al Baqarah ayat 223, Allah menjelaskan peebedaan hakikat antara suami dan istri. Istri diibaratkan sebagai ladang, dan suami diibaratkan sebagai yang menanam (petani).

Ayat ini memiliki dua tafsiran makna umum.

a. Dalam kaitannya dengan membuahkan keturunan yang baik.

Seorang petani yang ulung, maka ia akan memilih
-  lahan terbaik (wanita sebagai istrinya)
- mempersiapkan lahan dengan perawatan terbaik
- benih terbaik (dari dirinya)
- di saat terbaik (bukan waktu yg diharamkan, terjaga, dsb)
- dengan cara terbaik (silahkan pelajari adab2 ibadah khusus suami istri)

Setelah benih tertanam pun, maka petani ulung akan
- memberikannya perawatan terbaik
- lingkungan terbaik
- mempersiapkan panen dengan cara terbaik
dst.

Maka, seluruh proses sejak memilih pasangan hingga anak menjadi besar adalah *satu kesatuan utuh* dari harapan menuai keturunan yang shalih dan shalihah.

*b. Menanam dalam kaitannya membuahkan amal shalihah dari kalimah thayyibah.*

Makna kedua dari mananam di ladang adalah secara maknawi seorang suami akan menuai benih yang ia tanamkan agar menjadi pohon yang kuat, berbuah lebat, dapat dipetik sepanjang masa.

Di dalam Al Quran, *benih terbaik* yang dapat kita tanam adalah *kalimatan thayyibah*, perkataan2 yang baik (lihat QS. Ibrahim: 24).

Seorang suami bertanggung jawab merawat, membina, membimbing istrinya dalam hal kebaikan.

Seorang petani yang ulung, akan
- memilih lahan terbaik (wanita shalihah)
- mengenali jenis tanah yang akan ia tanam (proses saling mengenal sepanjang masa)
- Benih apa yang akan ia tanam (nasehat2 kebaikan)
- kapan masa terbaik untuk menanam (seni dalam menasehati)
-  bagaimana cara perawatan terbaik (pembinaan istri)
- kapan harus dituai dst.

Buah yang dapat dipetik sepanjang masa adalah buah yang dapat hidup dan merekah di berbagai musim, musim panas, dingin, semi, gugur, kering, hujan.

Apabila seorang suami mampu membina seorang wanita sebagai istrinya dengan pembinaan terbaik,
niscaya ia akan menuai buah keberkahan bertambah-tambah, dalam 'musim' apapun, keadaan sulit dan lapang, senang dan sedih, kaya dan cukup, dan seterusnya.

Pohon yang kuat adalah yang akarnya memancar ke bumi, dan cabangnya memancar ke langit. Maka istri yang dituju adalah istri yang kuat pegangannya kepada Allah SWT, yang keberkahannya meluas ke mana2, meneduhkan yang berteduh, memberi buah bagi yang membutuhkan.

Maka, hakikat seorang suami bukan hanya memberi nafkah lahir bathin, namun juga merawat ladang yang Allah titipkan padanya, agar tercapai kebahagiaan dunia akhirat atasnya.

*Lanjutan Materi 1...*

*III. Hakikat Suami Istri bagian 3*

Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda secara *fungsi dan fitrah*.

"...dan laki-laki tidak sama dengan perempuan.." (QS. Maryam: 36)

Allah telah mempersiapkan perempuan secara fisik maupun psikis untuk (1) Hamil (2) Melahirkan (3) Menyusui.
Sesabar dan sekuat apapun seorang laki-laki, tidak akan ada yang mampu menggantikan ketiga peran wanita yang disebut di atas.

Sementara laki-laki Allah persiapkan fisik dan psikisnya untuk menjadi Qawwam (lihat QS.An-Nisa: 36). Seunggul apapun wanita, Qawwam adalah fitrah dan peran seorang laki-laki.

*Apa yang dimaksud dengan Qawwam?*

Setidaknya ada 6 hal yang perlu dipahami dari makna Qawwam. Ust Jalal mengatakan sebetulnya ada lebih banyak dari itu.

(1). Qawwam yang berasal dari kata Qāimun, yang berarti _yang mengurusi urusannya (wanita)_

(2) Muaddib, yakni Pendidik. Maka seorang suami bertanggung jawab mendidik istri dan keluarganya.

(3) Roin, yang memimpin agar yang dipimpinnya berada dalam kebaikan.

(4). Musallithun 'ala ta'dhibihim, berasal dari kata Sulthān, yang artinya adalah yang menguasai (arena) untuk mengurusi menyayomi. Contoh: menguasai ilmu dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendidik.

(5) Mudābbir: Yang mengatur

(6) Mushlih: Yang memperbaiki, merevisi.

Dari 6 fungsi ini saja, makna *Qawwam* begitu dalam. Di dalam terjemah n seringkali ditulis dengan satu kata yakni Pelindung. Harapannya para pembaca dapat menghayati makna Qawwam sebagai pelindung yang perannya mencakup *keseluruhan 6 fungsi di atas*.

*IV. Hakikat Suami Istri yang ke-4*

Kedudukan perempuan dan laki-laki adalah *sama dalam peluang pahala*.

Berbeda fungsi tidak *serta merta* menjadikan perempuan lebih unggul dari laki-laki atau sebaliknya.

Dalam beramal shaleh, Allah tidak membeda2kan.

_"...Sesungguhnya Aku tidak menyinyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki dan perempuan...." (QS. Ali Imrān: 195)

Asma' binti Yazid suatu hari mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya kepada Nabi SAW,

_“Wahai Rasulullah, aku mewakili kaum perempuan datang menghadapmu. Jihad diwajibkan Allah kepada kaum laki-laki. Jika menang, maka mereka akan mendapat pahala, dan jika gugur, mereka hidup di sisi Tuhan dan memperoleh limpahan rezeki. Sementara kami, kaum perempuan, senantiasa menemani mereka disaat suka dan duka. Lalu, apa yang kami dapatkan?”_

Rasulullah kemudian bersabda,

_“Sampaikanlah pada setiap perempuan yang engkau temui, *bahwa menaati suami (salam kebaikan) dan memenuhi hak-haknya bisa menyamai pahala jihad*. Tapi, hanya sedikit di antara kalian yang melakukannya.”_

(diambil dari HR. Al-Bazzar)

Meskipun demikian, Allah tetap memberi peluang jihad bagi para perempuan dalam kondisi-kondisi tertentu.

Contoh lain adalah mengenai perginya seorang perempuan ke masjid. *Islam memberikan kebebasan luar biasa*. Perempuan tidak diharuskan ke masjid, tapi juga tidak pula boleh dilarang.

*VI dan VII. Hakikat Suami Istri keenam dan ketujuh*

Suami dan Istri bisa menjadi *musuh* satu sama lain dan juga menjadi *sahabat*.

_"Wahai orang2 yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak2mu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni, maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang"_
(QS. At-Taghabun (64): 14)

Jika istri dan anak bisa menjadi musuh, maka istri dan anak pun dapat menjadi Sahabat.

Maka tugas kita adalah *bagaimana* agar suami dan istri dapat menjadi Sahabat, menjadikan rumah tangganya sebagai Baiti Jannati (rumahku surgaku).

*(1). Memperbanyak Taubat*

Jika menemukan bahwa rumah tangga masih jauh dari Surga, maka Allah telah mengisyarahkan ubtuk bertaubat.

Nabi Adam a.s dan Hawa dikeluarkan dari surga, tapi kemudian keduanya bertaubat, maka Allah berikan kepada mereka petunjuk dan jalan untuk kembali surga.

*(1) Pemaaf dan banyak meminta maaf*
Salah satu yang disebutkan dalam ayat di atas tadi (64:14), Allah memerintahkan untuk  memaafkan dan menyantuni.

Dalam konflik apapun, ada pihak yang merasa benar dan merasa salah. Jika merasa benar, maka perannya adalah untuk banyak-banyak memaafkan.
Jika merasa salah, segeralah meminta maaf dengan mengalahkan ego pribadi dan mengharap ridha Allah SWT.

(Dalam sesi diskusi Ust Jalal menambahkan) , *di antara suami dan istri siapa yang harus lebih sering meminta maaf?*

Tentunya yang paling banyak berdosa.

Namun demikian,
meski maaf adalah tanggung jawab kedua belah pihak, ada penekanan khusus bagi para suami untuk lebih sering meminta maaf.. karena Ayat 64:14 tadi secara kaida ditujukan lebih utama kepada para suami yang memegang peranan sebagai *Qawwam dalam keluarga*. Saya (Ust Jalal) membiasakan sejak menikah hingga sekarang sebelum tidur meminta maaf kepada ummi (istri Ust Jalal) atas segala kekurangan.

Urusan Sahabat dan musuh *jangan dianggap remeh*. Menjadikan rumah tangga sebagai Baiti Jannati adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.

Di dalam Al Quran, Allah menggambarkan 4 tipe pernikahan.

*Keluarga 1*:
*Suami istri bersahabat dalam kebaikan*

Yakni kisah pernikahan Rasulullah SAW dan Ibrahim a.s. Bukan hanya keluara inti (a'ilah) yang baik, namun keluarga hingga kepada keturunan2nya dan yg tinggal bersamanya (usrah) pun dalam keadaan baik. Bahkan Ibrahim a.s mendapatkan julukan Bapak para Nabi karena begitu banyak daei keturunanannya yang menjadi Nabi.

*Keluarga 2: Istri menjadi musuh suami*

Yakni yang terjadi pada pernikahan Nabi Luth dan Nabi Nuh a.s (lihat QS. At-Tahrim (66): 10).

Dalam kondisi seperti ini, seorang suami harus tetap istiqamah dalam kebenaran, memihak

*Keluarga 3. Suami menjadi musuh istri*

Yakni yang terjadi pada Asiyah istri Firaun. Asiyah asala seorang yang beriman dan tetap dalam keimanannya meski suaminya (Firaun) adalah raja jahat sepanjang masa (lihat QS. At Tahrim: 11)

*Keluarga 4. Bersahabat dalam keburukan*

Yakni, seperti Abu Lahab dan Ummu Jamil yang Allah rekam kisahnya dalam QS. Al Lahab. Keduanya memang bersahabt, namun persahabatannya tidak membawa mereka ke surga, melainkan ke neraka. Naudzubillahimindzalik.

*VIII. Hakikat Suami Istri kedelapan*

Amanah/Titipan dari Allah SWT...

Suami bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya.
Istri bertanggung jawab atas anaknya.

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu..." (QS. At-Tahrim (66): 6)

Selamatkan bermakna dari *neraka dunia* dan juga *neraka akhirat*.

*Menyelamatkan* bukan berarti sekolah favorit, mobil mewah, rumah mewah, dsb..

Sayangnya banyak manusia sering *merepotkan diri sendiri*...
Seringkali *keinginannya lebih besar* dari yang Allah minta...

Allah meminta menjaga keluarga dari neraka..  tidak wajib dengan sekolah mahal atau bermewah-mewah... lakukan yang terbaik semampunya dengan metode yang dirasa terbaik...

Dan dalam perkara pendidikan anak, banyak orang *keliru* melimpahkan tanggung jawab ini *hanya kepada istrinya*. Padahal, dalam Al Quran, pendidikan anak diberikan melalui ayah mereka. Sebagaimana yang dicontohkan oleh
Ibrahim a.s (dengan Ismail dan Ishaq), Luqmanul Hakim (lihat QS. Luqman),
Ya'Qub (dengan Yusuf dan anak2nya),
Nuh a.s.

*Inilah pentingnya* bagi para suami untuk menyadari tanggung jawabnya sebagai pendidik utama di rumah. Dan bagi *istri* tanggung jawab utamanya adalah mentaati suami dalam kebaikan dan membantu suami dalam menunaikan tanggung jawabnya.

Allahualam Bishawab.

Jumat, 13 April 2018

Lanjutan Materi Kurikulum HS

🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂

*BC Sabtu, 7 April 2018*

Lanjutan Materi Kurikulum HS

*Bag 2: Rekomendasi Kurikulum HS usia 4 - 12 thn*
oleh: *Ambu Ayeman*

🌹


Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamualaykum wr wb.

Sebelumnya, perlu kami ingatkan dulu bahwa kami adalah orang tua yang sungguh biasa-biasa seperti orang tua pada umumnya, yang sedang berusaha memantaskan diri untuk menjadi shalih shalihah. Jikalau memang ada kebaikan pada keluarga kami, maka itu adalah kemudahan-kemudahan yang datang dari Allah Azza wa Jalla semata. MasyaaAllahu laa quwwata illaa billah, allahuma baarik 'alayhi.

Sedangkan kesalahan pada diri kami tentu banyak. Mohon dimaklumi, kami pasangan orang tua yang masih sangat-sangat perlu banyak belajar... Pahamilah bahwa kami bukan ahli di bidang, pendidikan, tahfidz ataupun parenting. Kami hanya semata membagikan pengalaman kami membersamai putra kami dalam berislam. Dari apa yang kami sampaikan, pastikan untuk selalu cek dan ricek ke Al Quran dan As Sunnah as shahihah, yaa. Jika sesuai, silakan praktekkan. Jika menyelisihi, segera tinggalkan dan ingatkan kami juga.

Syukran wa jazakumullahu khayran ❤
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Kali ini kami akan membahas bagaimana kami menyusun kurikulum homeschooling kami. Seperti yang
sudah disampaikan sebelumnya, kami memiliki perioritas-prioritas tertentu dalam membimbing dan
mendidik putra kami, sehingga kurikulumnya pun menyesuaikan dengan visi misi keluarga kami.

Secara umum, kurikulum kami kurang lebih tersusun seperti di bawah ini. Mohon dipahami bahwa ini
hanyalah gambaran kasar saja, di mana intensitas pembelajaran diilustrasikan dengan kepekatan warna.
Warna yang ringan/pudar menggambarkan intensitas rendah, dan warna semakin pekat
menggambarkan intensitas/materi yang bertambah. Tidak semua bidang dapat kami uraikan satu per
satu, karena hal yang dipelajari dapat sangat banyak dan urutannya tidak dapat ditentukan, seringkali
disesuaikan dengan situasi. Warna merah menunjukkan bahwa bidang tersebut belum mulai dikenalkan.
1. Dalam *Islamic Studies*, kami mengenalkan aqidah (tauhid), akhlak adab, fikh, Al Quran dan sirah
pada putra kami di usia yang sangat dini, karena memang hal-hal tersebut akan menjadi pondasi
hidupnya. Tentu dalam bentuk yang sangat sedrhana, misalnya dengan perbincangan seperti:

_“MasyaaAllah, sudah bisa makan sendiri, yaa? Alhamdulillah Allah beri kita rezeki makanan.Yuk,
coba bilang: Alhamdulillah…”_

 Ungkapan tersebut sudah mengandung nilai-nilai Akidah (Allah
memberi rezeki) dan adab (bersyukur dan mengucap hamdalah). Intensitas keterpaparan putra kami
terhadap hal-hal tersebut semakin lama semakin tinggi. Pun bahasan yang diberikan. Di usia dini,
putra kami dapat mengamati kami shalat dan mencoba ikut-ikutan, sehingga dia menjadi paham
bahwa: Oh, ternyata untuk shalat perlu membersihkan diri dulu (wudhu). Oh, ternyata gerakannya
begitu dan begitu.


Keterpaparan ini sudah menjadi dasar akan pendidikan fikih ibadah. Tentu hal ini
akan menjadi lebih jelas saat ia pelan-pelan dapat melakukan seluruh gerakannya, semakin lama
semakin sempurna, menghafal bacaan-bacaannya, dan lambat laun mengerti artinya. Selanjutnya,
seiring dengan perkembangan kematangannya, ia dapat mempelajari syarat-syarat sahnya shalat
dan kewajiban-kewajiban dalam shalat, misalnya.
 2. *Soft Skills* merupakan bidang yang sangat luas, mencakup integrasi semua adab dan akhlak islami
seperti jujur, shiddiq, bersyukur, tawakkal, qanaah, amanah, fathanah, serta nilai-nilai universal
seperti percaya diri, bertanggungjawab, berjiwa terbuka, berani, senang menolong, menabung,
hemat, senang berbagi, berhati-hati, fokus, teliti, menjadi pendengar yang baik, tidak menyerah,
berjiwa pejuang, memegang komitmen, peduli, memegang prinsip, mandiri, , menghargai orang lain,
reflektif, berempati, hormat, mencari tahu, antusias, dapat bekerja sama, dapat berkomunikasi
dengan baik, berani mengambil resiko, berpengetahuan,menabung, menghindari hutang, meminta
tolong saat membutuhkan dan lain-lain.

Dapat dilihat bahwa nilai-nilai yang perlu dibiasakan pada
diri anak sangat banyak, seningga pembagian waktunya tidak dapat kami rencanakan secara khusus.
Seringkali pembelajaran soft skills terjadi sesuai dengan momen yang sedang terjadi. Misalnya saat
kami kedatangan tamu ketika putra kami masih balita, ia belajar berani untuk menyalami tamu-
tamu, menyampaikan nama dan usianya, mengucap salam. Saat itu, ia sudah mulai belajar bibit-bibit
dari: adab, berani, public speaking (salah satu life skills).
3. *Life Skills* bagi kami secara umum adalah keterampilan dasar untuk mempertahankan hidupnya
dengan cara yang efisien dan efektif. Di dalam tabel kami cantumkan beberapa saja, walaupun
sesungguhnya masih ada banyak lagi.

*Self care* adalah keterampilan merawat diri sendiri, misalnya.
Dalam hal menjaga kebersihan tubuh: mencuci tangan sebelum makan, menggosok gigi, mandi,
mencuci rambut, memotong kuku, dan lain-lain. Termasuk juga merawat luka, dan hal-hal mendasar
yang perlu dilakukan saat jatuh sakit.

 *Homemaking* mencakup segala urusan rumah tangga, seperti
membersihkan rumah, mengatur penggunaan barang/bahan makanan, mengatur tata letak barang-
barang di rumah, merawat barang-barang, mencuci pakaian, menyetrika, mencuci piring, memasak,
menjahit, pertukangan dasar, merawat tanaman dan hewan peliharaan, memastikan kenyamanan
tinggal di rumah.

 *Socialising* adalah keterampilan untuk berteman dan berinteraksi dengan orang
lain dengan berbagai latar belakang. Planning dan organizing adalah keterampilan merencana dan
mengatur. Misalnya, saat memutuskan ingin masak sayur sop, putra kami akan belajar
merencanakan bahan-bahan yang perlu dibeli dengan melihat/memeriksa bahan apa saja yang ada
di dapur dan bahan apa saja yang perlu dibeli. Dengan demikian ia dapat membuat daftar
belanjanya, kemudian memperhitungkan berapa banyak bahan yang perlu dibeli untuk dikonsumsi
sekian orang, dan berapa banyak uang yang perlu di bawa. Kegiatan ini sudah mencakup
pembelajaran planning dan organizing, menulis serta matematika.

*Public speaking* adalah
keberanian berbicara dengan terstruktur di hadapan orang lain, yang mungkin dalam jumlah yang
banyak. Dalam kegiatan belanja di warung sayur, seorang anak perlu mengumpulkan keberaniannya
untuk interaksi jual beli, terutama jika lawan bicaranya adalah orang-orang dewasa. Ini sudah bibit
public speaking bagi kami.

*DIY Houseworks* adalah kemampuan memperbaiki perkakas rumah
tangga sehari-hari sebelum mencapai level yang membutuhkan bantuan tukang atau bengkel.
Contohnya, memperbaiki rantai sepeda yang lepas, mengecat rumah, memompa ban sepeda atau
bola basket, mengelem sol sepatu yang lepas, memperbaiki engsel pintu, plumbing, pertukangan
dasar dan lain-lain. Kami berharap suatu saat putra kami juga memiliki pemahaman dasar tentang
mesin kendaraan bermotor.

*Financial skills* adalah kemampuan mengatur keuangan, memilah
antara kebutuhan dan keinginan, menahan diri dari membeli keinginan-keinginan, menabung,
memilah dana untuk sedekah, dipakai, dan ditabung, menakar kebutuhan masa depan.
 4. *Numeracy* adalah kemampuan matematika, dimulai dengan angka dan berhitung. Sesuai
perkembangan kematangan, materi ini akan meningkat instensitasnya sesuai dengan kurikulum
sekolah pada umumnya.

5. *Literacy* merupakan kemampuan berbahasa. Kami membaginya menjadi reading (keterampilan
membaca, termasuk mengeja, mengucapkan kata dengan benar, intonasi, ekspresi), reading
comprehension (memahami apa yang dibaca), handwriting (menulis, baik dalam huruf cetak dan
huruf bersambung), writing composition (membuat tulisan/ surat/ karangan/ artikel/ laporan), idea
developing (membuat mind map, slides, list/daftar), languages (berbagai bahasa).

6. *Science* merupakan ilmu pengetahuan yang mencakup biologi, fisika, kimia, astronomi, geografi.

7. *Art and craft* mencakup berbagai keterampilan seperti bebikinan dari berbagai bahan, merajut,
menjahit, memanfaatkan barang bekas, menggambar.

8. *Sport and PE (Physical Education)* dalam bahasa Indonesia disebut Pendidikan Jasmani dan Olah
Raga, mencakup olah raga harian (pemanasan, jogging, bersepeda), Thifan Tsufuk, panahan, renang,
memilih makanan sehat, kebersihan diri dan lingkungan.

9. *General Knowledge* adalah pengetahuan-pengetahuan umum seperti Kurikulum Nasional Indonesia
yang berlaku, sejarah, keterampilan dasar komputer, keterampilan mengetik dengan sepuluh jari,
peduli lingkungan, keterampilan akademik.

Sekilas, semua ‘mata pelajaran’ terlihat sangat banyak, yaa, bagaikan menggunung. Akan tetapi pada
kenyataannya kami menjalaninya sedikit demi sedikit.
*Ada beberapa catatan pentingyang perlu kami sampaikan juga:*

1. *Semua berawal dengan pengenalan yang sangat halus,* misalnya membiarkan anak mengamati apa
yang dilakukan oleh orang tuanya dalam aktivitas sehari-hari, lalu usahakan untuk menjawab
pertanyaannya . Jika memang tidak tahu jawabannya, katakan belum tahu, lalu usahakan cari
jawabannya. Lebih baik lagi jika anak dapat dilibatkan dalam mencari jawabannya. Jangan sampai
berbohong atau memberi jawaban yang asal. Misalnya, saat anak bertanya tentang hujan, katakan
yang sebenarnya dengan bahasa yang mudah dipahami anak, insyaaAllah mereka bisa mengerti.
Jangan sampai mengatakan ‘Langit sedang menangis karena sedih’.

2. *Hargai golden moments mereka*. Golden moments adalah saat ketika anak sedang sangat tertarik
pada sesuatu, sehingga ia banyak bertanya tentang hal tersebut. Usahakan puaskan rasa
penasarannya. Golden moments adalah saat-saat dimana anak benar-benar belajar dan dapat
menjadi sangat paham tentang hal yang menjadi ketertarikannya tersebut. Sebagai contoh, saat
putra kami berusia lima tahun, setiap kali kami berkendara (kami menggunakan motor bebek
bertiga), ia selalu bertanya tentang pelat nomor kendaraan. “Itu plat DK dari mana? A dari mana? E
dari mana?” Semua yang ia lihat ditanyakan, sampai kami tidak bisa menjawab lagi pelat-pelat yang
kami pun tidak hafal. Lalu abah search di internet, print, lalu ditempel di dinding. Dalam waktu
singkat putra kami hafal semua plat nomor Indonesia, sehingga saat kami berkendara ia bisa
melapirkan, “itu mobil dari Cirebon! Itu dari Priangan Timur! Itu dari Kalimantan, jauh banget, yaa?”
Beri mereka waktu untuk memuaskan rasa ingin tahunya, walaupun ini berarti menggeser
perencanaan yang sudah kita buat.

3. *Upayakan mencari informasi atau jawaban-jawaban atas pertanyaan anak dengan mengutamakan referensi* berupa orang yang memang ahli di bidangnya, serta buku-buku rujukan. Jadikan internet
sumber terakhir. Dengan demikian anak melalui proses pencarian dan tidak mengharapkan jawaban
instan. Mencari sebuah kata dalam kamus dapat mendidik kesabaran dan ketelitian, dan
menemukan kata yang dicari sudah merupakan ‘hadiah’ bagi anak.
[14/4 06:27] Karina Hakman: 4. *Belajar bersama.* Ada hal-hal yang perlu kami ajarkan pada putra kami,sedangkan kami sendiri pun
belum menguasainya. Jadilah kami belajar bersama. Misalnya, kami dulu tidak hafal doa keluar
rumah. Ya sudah, kami hafalkan bersama-sama, lalu saling mengingatkan saat keluar rumah, dan
jadikan kebiasaan. Alhamdulillah lama-lama menjadi kebiasaan yang insyaaAllah tidak terlewatkan
lagi.

5. *Pelajaran yang sudah dan sedang berlangsung tidak terikat usia/waktu/level/tingkat.* Jikalau putra
kami lambat memahami suatu pelajaran dan perlu waktu lebih, maka akan kami perpanjang
pelajaran tersebut. Misalnya, jika putra kami belum paham tema perkalian dalam waktu enam kali
pertemuan, maka tetap akan kami bahas di pertemuan-pertemuan berikutnya hingga betul-betul
dipahami, walaupun memakan lebih banyak waktu. Kami tidak terburu-buru masuk ke tema baru
(misalnya tema pembagian) sebelum perkalian ini benar-benar dikuasai. Sebaliknya, jika putra kami
cepat memahami sesuatu hingga dikuasainya, kami tidak segan memberikan materi baru pelajaran
berikutnya. Dengan demikian pada saat ini, level pelajaran yang putra kami terima berbeda-beda jika dibandingkan dengan kurikulum nasional.
Agama Islam, numeracy dan literacy sudah masuk
level kelas tiga, Sejarah sudah advance, sedangkan IPA, IPS, PKn baru pada level dasar.


Demikianlah sekilas penyelenggaraan kurikulum dalam keluarga kami. Semoga dapat memberikan
gambaran bagi Bapak/Ibu dalam merancang kurikulum sesuai visi misi dan kebutuhan keluarga masing-
masing. *Dalam pelaksanaannya, tetaplah selalu minta petunjuk dan pertolongan Allah Azza wa Jalla,*
insyaaAllah selalu ada jalan.

Secara umum, kita tidak dapat memaksakan anak-anak untuk mau belajar
apa yang sudah kita siapkan, tetapi kita tetap bisa berupaya untuk membuatnya menarik, memancing
rasa penasaran dan ketertarikan anak, hingga akhirnya mereka belajar dengan ikhlas dan suka hati.
Sekian dari kami,

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

*Ambu dan Abah Ayeman*